Jumat, 16 April 2010

Perintah-Perintah Yang Baru dari Yesus

Perintah-Perintah Yang Baru dari Yesus

Oleh : Roderick C. Meredith, Living Church of God

Banyak yang mengajarkan bahwa Yesus Kristus menggantikan Hukum BapaNya dengan beberapa perintah-perintah "baru"! Sesungguhnya, bagaimanakah kebenaranNya? apakah Kesepuluh Perintah tersebut masih tetap harus dipatuhi?

Sekarang ini adalah zaman dimana manusia senang melakukan pemberontakan melawan segala hukum dan kekuasaan. Bangsa-bangsa dan pemerintahan-pemerintahan digulingkan, rumah-rumah dan sekolah-sekolah dihancurkan oleh berbagai macam kekacauan yang disebabkan oleh berbagai macam pemberontakan.

Suatu pandangan akan tanggapan manusia pada saat ini terhadap frasa kata di dalam doa Yesus yang berbunyi "Datanglah KerajaanMu, Jadilah KehendakMu", diberikan oleh seorang minister Ohio beberapa tahun yang lalu. Minister tersebut menulis "Kami Tidak Memaksudkan Hal Itu". Kita tidak menyenangi pemerintahan, atau tidak mudah menyerah bahkan jika Ia adalah Raja dari sorga sekalipun amatlah sangat nyata bahwa kebanyakan manusia pada kenyataannya telah sungguh-sungguh berdoa dengan cara yang seperti ini, "Janganlah datang KerajaanMu, dan terjadilah kehendakku."

Apakah Kesepuluh Perintah Dihapuskan?

Didalam bab sebelumnya pada buklet ini, kita telah melihat dan mempelajari penerapan yang positif dari Kesepuluh Perintah di dalam setiap aspek kehidupan pribadi kita sebagai hukum-hukum yang hidup dan aktif. Tetapi pada saat ini banyak pelayan dan pengajar Alkitab yang salah mewartakan dengan mengatakan bahwa Kesepuluh Perintah telah "dihapuskan" karena perintah-perintah tersebut telah digantikan oleh perintah-perintah Yesus yang "baru".

Apakah yang dimaksud dengan perintah-perintah yang "baru"? apakah perintah-perintah tersebut menggantikan atau melawan Kesepuluh Perintah? dan apakah yang dinyatakan oleh Alkitab tentang perihal yang sangat penting ini? Pertama kalinya, marilah kita memperhatikan salah satu tujuan penting bagi kedatangan Yesus Kristus ke bumi ini di dalam manusia daging. Yesaya menubuatkan tentang Yesus: "Ia akan meninggikan hukum dan membuatnya terhormat/agung" (Yesaya 42:2 1). Disini kita menemukan bahwa Kristus datang tidak untuk meniadakan hukum, tetapi untuk "mengagungkan/memperbesar"nya. (KJV).

Meninggikan atau memperbesar sesungguhnya memiliki arti yang sangat berkebalikan dengan mengubah atau meniadakan sesuatu. Meninggikan atau memperbesar memiliki arti untuk menyatakan sesuatu hal secara rinci, atau memperluas artinya. Tentu saja kehidupan Yesus dan ajaranNya menyatakan kepada kita tentang bagaimanakah Ia memang selalu melakukan hukum Bapa.

Yesus mengatakan: "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya." (Matius 5:17).

Yesus melakukan apa yang diucapkanNya tersebut. Baik di dalam kehidupan dan ajaranNya, Yesus menggenapi hukum. Ia mengagungkan dan memperbesarnya dengan teladanNya yang sempurna. Ia melakukannya dengan segala kepenuhannya, jauh diatas hanya sekedar huruf untuk melakukan perintah tersebut. Bahkan Ia juga mematuhinya mulai dari hal keinginan hati beserta tujuan rohani yang ada di dalam hukum Bapa yang sempurna tersebut.

Mereka yang mengetahuiNya sebagai seorang guru tidak pernah dapat mengatakan bahwa Ia telah menempatkan tradisi manusia untuk menggantikan Perintah Allah. Ia benar-benar mematuhi Kesepuluh Perintah di dalam kata-kata dan di dalam perbuatan. Ia mengajarkan dan menghidupkan perintah-perintah tersebut sebagai jalan hidup yang sempurna.

Ia berkata: "Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga." (Matius 5:19)

Dengan jelas, kita harus memiliki keinginan untuk menjadi "kuat" di dalam Kerajaan Allah. Kita sudah seharusnya memiliki keinginan untuk mengalahkan segala kekurangan kita semaksimal mungkin, dan memiliki kesempatan untuk melayani dengan baik dan sekuat mungkin! Oleh karenanya, kita harus dengan bersungguh-sungguh dan nyata berjuang untuk melakukan dan mengajarkan perintah-perintah Allah bahkan yang "paling kecil" sekalipun. Sekarang apakah anda berpikir bahwa perintah tentang hari Sabat adalah merupakan perintah yang "paling kecil"? Jika ya maka anda harus melakukan dan mengajarkan perintah tentang hari Sabat Allah sama seperti yang Ia perintahkan, yaitu dengan mengikuti teladan Kristus yang sempurna untuk memperingati hari ketujuh yang suci tersebut, dan bukannya "hari matahari"!

Jalan Menuju Hidup Yang Abadi

Ketika seorang muda datang kepadaNya serta bertanya tentang jalan yang dapat memimpin orang kepada hidup yang abadi, Yesus berkata: "Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Alla" (Matius 19:16-18).

Orang muda tersebut bertanya, "perintah yang manakah?"

Yesus menjawab, "'janganlah membunuh,' 'janganlah berbuat zinah....'" dan kemudian meneruskannya dengan menyebutkan beberapa perintah dari Kesepuluh Perintah. Yesus Kristus sesungguhnya mengetahui jalan yang akan memimpin seorang manusia kepada keselamatan! Ia berkata bahwa jalan yang membawa manusia kepada keselamatan itu adalah kepatuhan akan hukum Allah Bapa dan kepasrahan akan kehendakNya.

Yesus mengatakan: "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga." (Matius 7:2 1).

Jadi jauh dari meniadakan Kesepuluh Perintah, Yesus pada kenyataannya mematuhi perintah-perintah Allah (Yohanes 15:10). Kristus adalah "cahaya" yang Allah kirim kedalam dunia untuk menunjukkan kepada manusia tentang bagaimanakah mereka harus hidup. Setelah kematian dan kebangkitanNya, Kristus mengirim para rasul dengan perintah ini: "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah" (Matius 28:19-20).

Para rasul ada bersama-sama dengan Kristus ketika Ia berkata kepada orang muda tersebut: "Lakukanlah perintah-perintah Allah". Mereka telah mendengar Yesus mengagungkan dan memperbesar perintah-perintah Allah di dalam Khotbah di Bukit (Matius 5-7).

Para rasul telah menyaksikan kepatuhan Kristus akan Kesepuluh Perintah dan mengetahui bahwa kepatuhanNya adalah teladan yang sempurna. Oleh karenanya ketika Yesus Kristus mengirimkan mereka ke setiap bangsa dengan misi untuk mengajarkan mereka tentang segala hal yang telah Ia perintahkan kepada mereka, tidak terdapat suatu keraguan pun di dalam pikiran mereka bahwa segala hal tersebut adalah termasuk Kesepuluh Perintah Allah.

Kepatuhan terhadap Kesepuluh Perintah adalah suatu dasar ajaran dari Kristus dan para RasulNya. Namun sekarang apakah yang dimaksud dengan perintah-perintah "baru" dari Yesus? Apakah perintah-perintah baru tersebut pada akhirnya meniadakan kewajiban kita untuk secara sungguh-sungguh melakukan Kesepuluh Perintah yang dinyatakan di dalam Wasiat Lama?

Sebuah Perintah Yang "Baru"

Walaupun banyak orang berpikir bahwa terdapat banyak ayat di dalam Alkitab yang menyatakan tentang suatu perintah "baru", pada kenyataannya hanya terdapat satu tempat saja di dalam seluruh Alkitab di mana Yesus mengatakan Ia memberikan suatu perintah yang "baru". Ayat referensi yang lain yang ditulis oleh rasul Yohanes sesungguhnya adalah merupakan prinsip-prinsip yang sama seperti yang akan kita lihat.

"Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi." (Yohanes 13:34-35).

Yesus memberikan perintah yang "baru" ini pada saat malam terakhir dari masa hidupNya sebagai manusia daging di bumi ini. Melalui ajaran dan teladanNya, Ia telah menunjukkan kepada murid-muridNya bahwa tindakan melakukan perintah-perintahNya tersebut tidak lain adalah tindakan kasih.

Kita menunjukkan kasih yang nyata terhadap Allah ketika kita bersungguh-sungguh menyembah dan mematuhiNya, yaitu dengan tidak mengijinkan "ilah-ilah" lain, berhala-berhala, gambar-gambar atau hal apapun di hadapanNya dan selalu menghormati namaNya serta merayakan hari Sabat ketujuhNya yang Ia sucikan, yang juga dirayakan oleh Yesus dan para rasul! Dan kita menunjukkan kasih bagi mereka yang ada disekitar kita ketika kita secara bersungguh-sungguh mematuhi keenam perintah terakhir.

Kristus telah menyimpulkan hukum Allah di dalam dua prinsip besar: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.... Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." (Matius 22:37, 39). Sesungguhnya pada bagian terakhir dari penyimpulan hukum Allah ini Yesus mengutip secara langsung dari Wasiat Lama (Imamat 19:18)!

Jadi apakah hal yang "baru" dari perintah Yesus tentang mengasihi kepada sesama?

Jawabannya adalah sangat jelas. Prinsip dari mengasihi sesama sesungguhnya bukanlah hal yang baru, namun Yesus mengagungkan prinsip tersebut di dalam kehidupanNya yang sempurna memberikan suatu cahaya yang baru di dalam keinginan dan kedalaman rohani dari perintah ini.

Ingatlah hal yang ditekankan oleh Yesus, "Sejalan dengan Aku mengasihi dirimu, demikian pulalah engkau harus saling mengasihi."

Teladan pribadi Yesus akan kasih dan pelayanan adalah suatu pengagungan yang paling besar dan penuh arti dari kasih atas sesama seperti yang diperintahkan oleh Allah. Di dalam kehidupanNya, Ia menunjukkan tentang bagaimanakah kasih tersebut benar-benar dilaksanakan di dalam kehidupan sehari-hari.

Cara Bagaimanakah Mengasihi Sesama Anda

Tiga kali suara dari Yang Maha Tinggi mengguntur dan bergema di langit menyatakan tentang bagaimanakah Allah merasa puas dengan kehidupan yang di miliki oleh Yesus. Bahkan seorang pejabat Roma, Pontius Pilatus, berkata: "Lihatlah, aku membawa Dia ke luar kepada kamu, supaya kamu tahu, bahwa aku tidak mendapati kesalahan apa pun pada-Nya." (Yohanes 19:4).

Hal ini terjadi oleh karena Yesus menghidupkan jalan hidup yang memberi. Yesus menjalankan prinsip hidup memberi kepada sesama. Semua itu tercermin ketika ia mengajar khayalak ramai, mujizat penyembuhanNya akan orang sakit, tindakanNya melakukan mukjizat untuk memberi makan khayalak ramai atau tindakan yang penuh dengan kerendahan hati seperti membasuh kaki para rasul. Yesus selalu memiliki tindakan memberi dari diriNya.

Yesus Kristus yang penuh dengan tindakan kasih dan memberi ini juga berkata kepada para pemimpin agama di zamanNya, "Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular beludak! Bagaimanakah mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka?" (Matius 23:33).

Apakah kata-kata yang aneh ini berasal dari seorang manusia yang penuh dengan kasih? Bukan. Melainkan kata-kata ini sesungguhnya adalah perwujudan dari bagaimanakah kasih yang sempurna itu terkadang dikatakan dan dilakukan bagi kebaikan orang lain yang mana pada saat kata-kata tersebut dikatakan, orang-orang tersebut tidak dapat menghargainya.

Ketahuilah bahwa Yesus mengasihi orang-orang Farisi tersebut! Di dalam kasihlah Yesus mengatakan kata-kata ini untuk membangunkan mereka dari kehidupan beragama yang munafik dan keliru yang dapat mencelakakan jiwa mereka. Ingatlah bahwa bagi orang-orang Farisi yang sama itu pulalah Yesus telah meninggal. Kepada orang-orang Farisi ini dan juga yang lain yang seperti mereka itulah Yesus berdoa. Adalah kepada Farisi ini dan juga yang lain yang seperti mereka Yesus berdoa: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Dan mereka membuang undi untuk membagi pakaian-Nya." (Lukas 23:34).

Adalah di dalam kasih yang sempurna dan yang penuh dengan pengertian itulah Yesus sesekali menarik diri untuk beristirahat, merenung atau berdoa. Karena Ia tahu bahwa hanya dengan mempertahankan kedekatan dengan Allah Bapa dan menjadi alat di dalam kehendak dan kuasaNya sejalah maka ajaran dan keberadaan Yesus sebagai manusia akan dapat memperkaya kehidupan orang lain.

Yesus tidak bertindak seolah-olah Ia mengasihi sesama. Ia benar-benar mencintai mereka dengan kasih yang sempurna. Melalui Roh Kudus Allah di dalam diriNya itulah Ia dari dalam hatiNya berkeinginan untuk mengasihi serta melayani sesamaNya. Dan hal itu dilakukanNya bagi kebaikan mereka yang sesungguhnya.

Ia dengan bersungguh-sungguh menghidupkan kata-kata yang pada saat setelahnya ditunjukkan oleh Paulus. Ia mengatakan: "Adalah lebih baik memberi daripada menerima" (Kisah Para Rasul 20:3 5). Dengan cara inilah perintahNya yang memerintahkan manusia untuk saling mengasihi satu dengan yang lain "bahkan sama seperti aku mengasihi dirimu" benar-benar menjadi suatu perintah yang "baru" dan luas di dalam mengatur hubungan antara manusia.

Apakah Yesus bersungguh-sungguh Mematuhi Kesepuluh Perintah?

Banyak orang beragama berpikir bahwa Yesus memiliki suatu jenis "kasih" yang sentimentil di dalam hatiNya, yang mana bagaimanapun juga Ia tidak sungguh-sungguh mematuhi perintah-perintah Allah secara nyata.Tetapi hendaklah kita mengetahui bahwa kebenarannya adalah bahwa Yesus Kristus melakukan dan mematuhi setiap Sepuluh Perintah baik secara huruf dan Roh, dan hal ini pulalah yang harus dilakukan oleh para pengikutNya. Sama dengan apa yang telah kita lihat, Yesus dengan jelas mengatakan bahwa Ia telah mematuhi perintah-perintah Bapa (Yohanes 15:10).

Untuk membuat perintah-perintah ini menjadi sangat jelas, Yesus Kristus tidak pernah memiliki ilah lain dihadapan Allah yang benar. Ia tidak pernah melakukan penyembahan berhala atau menyia-nyiakan nama Allah. Yesus merayakan hari Sabat yang disucikan oleh Allah dan memiliki kebiasaan pergi ke sinagoga untuk beribadah pada hari itu (Lukas 4:16).

Yesus mengagungkan orang tuaNya, dan Ia tidak pernah membunuh, bercabul, mencuri, berbohong atau mengingini. Ia memberikan suatu teladan di dalam langkah-langkah hidupNya yang kita harus ikuti (1 Petrus 2:2 1). Pada saat ini, seorang umat Kristen yang benar adalah seorang manusia yang menyerahkan dirinya kepada Allah sehingga Kristus dapat benar-benar menghidupkan kehidupanNya di dalam diri orang tersebut melalui berdiamnya kekuatan Roh Kudus di dalam dirinya. Oleh karena rasul Paulus mengatakan: "namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku." (Galatia 2:20).

Seorang Kristen yang benar tidak seharusnya hanya memiliki iman di dalam Kristus, tetapi harus juga hidup oleh iman Krsitus yang ditempatkan di dalam dirinya oleh Roh Kudus. Kristus, melalui Roh Kudus, harus benar-benar hidup didalam umat Kristen yang benar. Ingatlah bahwa Kristus akan menghidupkan kehidupan yang sama di dalam diri anda hari ini sama dengan apa yang Ia lakukan lebih dari 1900 tahun yang lalu, yang mana hal ini tidak lain adalah memberikan suatu teladan kepada kita. "Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya." (Ibrani 13:8).

Yesus, di dalam keadaan diriNya sebagai makhluk daging, "telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa." (Ibrani 4:15). Dicobai ya tetapi di dalam kehidupanNya sebagai makhluk daging Ia mematuhi Kesepuluh Perintah. Dan dengan keberadaan Roh Kudus di dalam diri para murid, Kristus akan melakukan perintah-perintah tersebut di dalam diri mereka, yaitu melalui kepatuhan mereka dan kerelaan mereka untuk membiarkan Kristus menghidupkan kehidupanNya yang patuh di dalam diri mereka.

Adalah kasih Kristus, kekuatanNya di dalam diri kita, yang dapat mematuhi hukum rohani Allah. Hal ini adalah karena Yesus Kristus dari dulu dan juga sekarang memang mematuhi Allah Bapa.

Apakah Yohanes Memberikan Suatu Perintah "Baru"?

Di dalam surat yang ditulis oleh Yohanes, rasul yang dikasihi oleh Yesus, kita juga akan menemukan referensi akan suatu perintah "baru".

"Saudara-saudara yang kekasih, bukan perintah baru yang kutuliskan kepada kamu, melainkan perintah lama yang telah ada padamu dari mulanya. Perintah lama itu ialah firman yang telah kamu dengar. Namun perintah baru juga yang kutuliskan kepada kamu, telah ternyata benar di dalam Dia dan di dalam kamu; sebab kegelapan sedang lenyap dan terang yang benar telah bercahaya. Barangsiapa berkata, bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang." (1 Yohanes 2:7-9).

Disini sang rasul mengarahkan jemaat kepada "firman" Allah yang memang sudah ada ditengah-tengah mereka mulai dari mulanya. Tetapi kemudian ia menyebutkan suatu hal yang "baru". Ia melanjutkan dengan menjelaskan bahwa hal yang baru ini sesungguhnya adalah kasih rohani yang dalam yang harus dimiliki oleh jemaat Kristus terhadap sesamanya. Tidak ada ruang sedikit pun bagi kebencian, iri hati atau kedengkian bagi kasih yang semacam ini.

Tetapi sekarang, yang menjadi pertanyaan adalah apakah kasih keKristenan ini "meniadakan" atau mengubah "Kesepuluh Perintah" Allah?

Jawabannya tentu saja tidak!

Malah sebaliknya, kasih keKristenan ini justru mempertegas dan memperbesar kasih umat Kristen pada masing-masing individu bagi sesamanya. Kasih ini mencakup kepatuhan yang lebih besar daripada huruf-huruf di dalam Kesepuluh Perintah namun kasih ini tidak menggantikan Kesepuluh Perintah tersebut!

Seperti yang Yohanes tuliskan di dalam suratnya yang kedua: "Dan sekarang aku minta kepadamu, Ibu -- bukan seolah-olah aku menuliskan perintah baru bagimu, tetapi menurut perintah yang sudah ada pada kita dari mulanya -- supaya kita saling mengasihi. Dan inilah kasih itu, yaitu bahwa kita harus hidup menurut perintah-Nya. Dan inilah perintah itu, yaitu bahwa kamu harus hidup di dalam kasih, sebagaimana telah kamu dengar dari mulanya." (2 Yohanes 5-6).

Disini Yohanes mendefinisikan kasih Kristen sebagai kasih yang diwujudkan di dalam tindakan mematuhi perintah-perintah tersebut!

Kita diajarkan untuk tidak hanya mengasihi orang-orang Allah dan Kristus, namun juga untuk mencintai jalan hidup mereka, yaitu karakter mereka yang diekpresikan di dalam Kesepuluh Perintah. Kristus tidak hanya mengajarkan kepatuhan terhadap perintah-perintah tersebut namun Ia juga hidup dan menghidupkan perintah-perintah tersebut!

Dan seperti yang ditambahkan oleh Yohanes: "Setiap orang yang tidak tinggal di dalam ajaran Kristus, tetapi yang melangkah keluar dari situ, tidak memiliki Allah. Barangsiapa tinggal di dalam ajaran itu, ia memiliki Bapa maupun Anak." (ayat 9).

Hal Yang Sesungguhnya Diajarkan Oleh Perintah-Perintah Yang "Baru"

Ketika kita melihat sisi positif dari perintah-perintah yang "baru", kita menemukan bahwa perintah-perintah tersebut sesungguhnya memperkuat perintah-perintah yang lama! Mereka menggaris besarkan suatu jalan hidup dari pada kasih, memberi, melayani, yang mana hal ini hanya bisa didapatkan melalui Kristus sendiri yang hidup di dalam diri kita.

Dengan menghilangkan segala keegoisan, kita sesungguhnya dapat belajar untuk mengasihi orang lain sama seperti Yesus mengasihi kita. Itulah doktrin Wasiat Baru! Hal ini jauh lebih mengikat dibandingkan huruf– huruf dari perintah-perintah yang dinyatakan di dalam Wasiat Lama.

Bagaimanapun juga, perintah baru tersebut tidak menggantikan perintah-perintah di dalam Wasiat Lama, melainkan mereka justru memberikan nilai yang lebih besar kepada arti rohani dari perintah-perintah tersebut. Dan perintah-perintah "baru" ini sendiri mengarah kepada kesempurnaan yang besar di dalam kehidupan Yesus.

Ketahuilah bahwa Yesus pada kenyataannya mematuhi Kesepuluh Perintah secara sungguh-sungguh dan bahkan di dalam arti rohaninya sekalipun. Ia adalah "cahaya terang" kita, yaitu teladan kita.

Menggambarkan prinsip tentang bagaimanakah kita harus mengasihi sesama rasul Paulus menyatakan: "Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat." (Roma 13:10). Hendaklah kita mengingat bahwa kasih rohani Allah tersebut mengalir melalui suatu dasar seperti air sungai mengalir melalui dasar sungai. Dasar tersebut sebenarnya adalah Kesepuluh Perintah.

Di dalam mematuhi Kesepuluh Perintah secara sempurna, yaitu di dalam setiap fasa dan sisinya, kehidupan Yesus sesungguhnya adalah suatu kehidupan yang memancarkan kasih itu sendiri dan kasih itu adalah pemenuhan dari hukum Taurat Allah. Perintah yang "baru" yang Ia berikan mengarahkan kita kepada teladanNya yang sempurna, yaitu teladan dari kepatuhan kepada Bapa, kebaikan dan kepelayananNya kepada semua orang.

Jutaan umat Kristen telah diajarkan bahwa hal yang perlu mereka lakukan hanyalah "mengasihi Yesus" atau memiliki "kasih Allah". Tetapi sekarang apakah yang sesungguhnya dimaksud dengan "kasih" tersebut? Bagaimanakah Allah sendiri menceritakan keapda kita tentang bagaimanakah kasihNya dapat ditunjukkkan? Pada akhir zaman Kerasulan, beberapa dekade setelah kebangkitan Yesus, Allah memberikan wahyu kepada rasul Yohanes (sahabat Yesus yang paling dekat di antara para rasul) untuk menceritakan kepada kita: "Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat," (1 Yohanes 5:3).

Ingatlah bahwa Yesus menghidupkan hukum Allah di dalam segala hal yang Ia pikirkan, Ia katakan dan Ia lakukan. Di dalam kehidupan kita sebagai makhluk daging, tidak ada satu pun dari kita yang dapat menjalankan hukum Allah dengan sempurna. Tetapi hukum Allah harus menjadi "pola" dari kehidupan kita. Kita diperintahkan untuk "Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya." (2 Petrus 3:18), pola kehidupan kita mengikuti hidup Kristus akan lebih sempurna sejalan dengan bergantinya tahun.

Biarlah Allah membantu anda untuk mengikuti teladan AnakNya di dalam mematuhi hukumNya. Dan biarlah anda, melalui penyerahan dan kepatuhan diri, mengembangkan karakter Allah. Oleh karenanya, dengan belas kasihNya melalui pengorbanan Kristus, dan melalui penyerahan diri yang total biarlah anda membiarkan Kristus menghidupkan kehidupanNya yang patuh di dalam diri anda melalui Roh Kudus, maka anda akan diberikan hidup yang abadi di dalam Kerajaan Allah!

Prepared by:

Bambang Wiyono

081 2327 3886

Website:

http://muridyesuskristus.blogspot.com

Milis :

http://groups.yahoo.com/group/fullgospel_indonesia

Catatan : Sebagai umat Kristen, kita harus hidup seperti Yesus Kristus hidup ( I Yoh 2:6 ), yaitu mentaati dan melaksanakan KESEPULUH PERINTAH ALLAH, jangan sampai ada satu perintahNya yang dilanggar, agar kita hidup berkenan dihadapanNya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar