Jumat, 16 April 2010

Perintah Keenam

Perintah Keenam
Oleh : Roderick C. Meredith, Living Church of God
Ini adalah suatu zaman yang penuh dengan kebencian dan kejahatan. Ini adalah suatu zaman yang penuh dengan persaingan, perselisihan dan kepenatan pribadi yang ketat. Bangsa-bangsa di dunia, beserta mereka yang hidup di dalamnya, mengarahkan pikiran dan hati nurani mereka kepada berbagai macam hal jahat yang akan mengarahkan kepada penghancuran global. Secara alami, keadaan ini merusak prinsip-prinsip dan ide-ide rohani umat manusia itu sendiri. Dampaknya dapat di rasakan pada saat ini, bahkan ketika anda membaca buklet ini. Kita telah melihat berkat-berkat yang datang melalui rasa kagum dan hormat kepada Allah, yaitu ketika kita memberikan rasa hormat yang tinggi terhadap nama dan pekerjaanNya, yaitu ketika kita memelihara kesucian hari SabatNya dan memelihara pengetahuanNya yang benar, dan menghormati bapa-bapa dan ibu-ibu kita di dalam kedudukan mereka sebagai orang tua. Hal ini secara langsung mencerminkan kedudukan Allah sebagai Bapa dan kasihNya akan semua ciptaan. Di dalam semua perintah yang telah kita bicarakan, kita telah melihat kasih, kebijaksanaan dan berkat. Dan ternyata demikian pulalah dengan perintah keenam.
Ditengah-tengah guntur, petir dan gunung Sinai yang bergoncang, suara Allah mengguntur menyatakan perintah keenam: "Janganlah membantai/Thou shalt not murder" (Keluaran 20:13, terjemahan Jewish Publication Society). Penterjemah Alkitab setuju bahwa kata "membantai" adalah kata yang lebih tepat untuk digunakan daripada kata "membunuh". Kata ini sesuai dengan kata asli Ibraninya Karena masihlah mungkin untuk membunuh, tetapi tidak membantai. (membantai adalah membunuh dengan brutal dan sadis-penterjemah). Hendaklah kita memahami bahwa orang Israel kuno hanya diberikan huruf hukum Allah, namun umat Kristen bukan hanya diberikan huruf hukum Allah tetapi juga harus hidup berdasarkan roh dan keinginan yang penuh dari hukum tersebut seperti yang diagungkan oleh Kristus sendiri. Di dalam huruf aslinya, hukum ini sesungguhnya menyatakan bahwa suatu tindakan membunuh atau pembunuhan/pembantaian yang diinginkan itulah yang dilarang. Ingatlah bahwa di dalam kitab perjanjian yang sama yang diberikan kepada Israel inilah Allah memerintahkan mereka untuk membunuh atau mengeksekusi mereka yang bersalah atas kejahatan yang besar (Keluaran 21:12-17). Juga, instruksi di dalam Bilangan 3 5:9-34 menunjukkan bahwa pembunuhan yang tidak direncanakan bukanlah termasuk pembantaian. Walaupun begitu, pembantaian terhadap manusia adalah dengan jelas suatu pelanggaran yang serius, yang mana seorang manusia yang melakukan pembantaian dengan tidak sengaja/tidak diingini tersebut haruslah tinggal di kota pelarian untuk beberapa tahun sampai imam tertinggi meninggal. Sama seperti Allah memerintahkan hukuman mati bagi tindakan kriminal yang serius dibawah huruf hukum taurat, maka perang yang diperintahkan bagi Israel untuk dilakukan tidak dapat dipandang sebagai tindakan pembantaian, namun sebagai pelaksanaan kehendak dari yang maha tinggi melalui instrumen manusia. Perhatikanlah di dalam Ulangan 7:1-2 bahwa Allah secara langsung memerintahkan Israel untuk menghabiskan seluruh suku penyembah berhala di tanah Kanaan. Dengan jelas, hal ini bukanlah peperangan yang dilakukan manusia atau suatu dendam dan amarah individu. Hal tersebut adalah suatu penyataan kehendak Allah yang maha agung yang memberikan kehidupan, dan yang memiliki hak untuk mengambil kehidupan tersebut.
Perlulah diketahui, sejarah mengindikasikan bahwa bangsa-bangsa yang mendiami tanah Kanaan tersebut adalah bangsa-bangsa yang benar-benar sangat jahat, yang membakar hidup-hidup anak mereka sendiri sebagai acara pengorbanan manusia kepada dewa-dewa mereka. Inilah salah satu alasan mengapa sang Pencipta memerintahkan bangsa-bangsa tersebut untuk dimusnahkan. Perhatikanlah bahwa di dalam kasus ini, pembunuhan yang dilakukan tersebut diijinkan oleh Allah, sedangkan manusia hanyalah alat yang digunakan oleh Allah untuk melakukan kehendakNya. Tujuan utama Allah sesungguhhnya adalah bahwa umat manusia harus belajar untuk tidak melakukan pembunuhan. Dan meskipun hal tersebut diijinkan di dalam beberapa kejadian untuk dilakukan oleh manusia daging yang dalam hal ini umat Israel yang belum bertobat, haruslah kita mengetahui bahwa Allah pada saat ini menanamkan dan mengembangkan karakter di dalam diri manusia-manusia yang diperanakkan dengan rohNya karakter untuk mengasihi, melayani dan mempertahankan kehidupan dan bukan untuk menghancurkannya.
Sumber Kehidupan
"Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa" (Kejadian 1:26). Manusia diberikan kehidupan oleh PenciptaNya. Manusia tidak memberikan kehidupan kepada dirinya sendiri. Dan juga manusia tidak berhak untuk mengambil kehidupan baik dari dirinya maupun orang lain. Kehidupan itu adalah suci karena kehidupan itu adalah pemberian Allah. Umat manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Dan dari seluruh ciptaan fisik, hanya umat manusialah yang memiliki jenis pikiran yang dimiliki oleh Allah. Allah adalah Penguasa dari segalanya, dan dari manusia daging Ia sedang menciptakan anak-anakNya sendiri yang akan pada suatu hari nanti berbagi pemerintahan bersama dengan diriNya sebagai Penguasa. Allah mengatakan "baiklah manusia memiliki kuasa...." Pada kenyataannya, umat manusia membutuhkan pengalaman untuk dapat mengembangkan karakter ilahi yang Allah inginkan untuk kita miliki. Sedangkan pengalaman itu sendiri membutuhkan waktu dan sesungguhnya terdapat banyak waktu di dalam kehidupan manusia. Allah memberikan kehidupan bagi suatu tujuan yang agung di dalam mempersiapkan seorang manusia untuk menjadi anakNya yang nantinya akan berada di dalam Kerajaan dan keluargaNya selamanya. Di dalam diri umat manusia tersebut mencakup pemberian hidup dan nafas kehidupan dan segala kemampuan kepada diri mereka. Hal ini adalah suatu pemberian yang sangat besar yang diketahui oleh umat manusia. Jika kehidupan ini dihentikan maka hal ini akan mengakhiri semuanya. Hal ini akan dengan sangat kejam dan tidak diharapkan menghancurkan segala harapan dan impian serta rencana dari seorang manusia yang diciptakan sesuai dengan gambar dan rupa sang Penciptanya sendiri. Hal ini adalah suatu tindakan perampasan dari hak yang di miliki oleh Allah yang memberikan kehidupan pada mulanya dan yang karenanya memiliki kekuasaan untuk mengambilnya (Ayub 1:21). Oleh karena itu pembantaian di dalam segala bentuknya adalah merupakan salah satu dari sepuluh dosa terbesar; suatu pemusnahan dari makhluk ciptaan Allah yang tertinggi! Di dalam dampaknya, hal ini adalah suatu usaha untuk menghancurkan tujuan yang sesungguhnya dari sang Penguasa paling agung di alam semesta ini! Ingatlah bahwa sang Pemberi kehidupan atas seluruh makhluk adalah Allah. Manusia yang lemah dan tidak abadi sesungguhnya tidak memiliki urusan apapun berhubungan dengan pemberian Allah yang besar ini!
Penerapan Pribadi dari Perintah
Yesus Kristus datang ke dunia ini untuk "mengagungkan" hukum Allah dan "membuatnya dihormati" (Yesaya 42:2 1). Yesus memberikan suatu terang, seperti pada Kesepuluh Perintah, dengan menunjukkan tujuan dan arti rohaniah dari perintah-perintah tersebut di dalam kehidupan kekristenan yang sepenuhnya. Yesus mengatakan "Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala." (Matius 5:21-22). Disinilah kita mendapatkan informasi yang jelas tentang asal usul pembunuhan yang tidak lain adalah kebencian dan amarah. Kristus mengatakan bahwa jika kemarahan pribadi memenuhi hati seorang manusia, maka orang tersebut sesungguhnya berada di dalam bahaya penghakiman. Jika amarah tersebut memimpin seorang manusia untuk mengejek dan membenci sesamanya, maka manusia tersebut akan berada "di dalam bahaya" penghakiman Allah. Jika di dalam kepahitan dan ejekan seorang manusia mengatakan kepada sesamanya, "engkau bodoh," maka orang semacam ini akan "berada di dalam bahaya api neraka". Inilah penerapan yang diberikan oleh Yesus Kristus dari perintah keenam bagi kita. Patutlah diingat yaitu bahwa jika kita melabuhkan kebencian dan amarah di dalam hati kita, maka kita sesungguhnya melabuhkan keinginan membunuh di dalam diri kita. Pertama kalinya kita hanya memikirkannya, namun kemudian kita akan melakukannya! Roh Kristus membimbing kita tidak hanya untuk mengendalikan tindakan-tindakan kita, tetapi juga untuk mengendalikan pikiran dan sikap kita. Demikianlah juga kita harus memahami bahwa Perjanjian Baru adalah suatu proses ketika Allah menuliskan hukumNya di dalam hati dan pikiran kita (Ibrani 8:10). Allah berbicara melalui Paulus, "Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan." (Roma 12:19). Pahamilah bahwa umat manusia tidak dapat mengendalikan amarah secara baik berdasarkan hikmat dan keadilan pada setiap aspek kehidupan. Hanya Allahlah yang memiliki hikmat dan kekuatan dan hak untuk melaksanakan amarah kepada umat manusia, bahkan "membunuh" jika diperlukan.
Umat Kristen yang benar sesungguhnya harus mempelajari bahwa Allah adalah nyata dan bahwa perlindungan dan amarahNya adalah adil dan nyata! Oleh karenanya, bagaimanakah seharusnya kita berhubungan dengan musuh kita? Alkitab mengatakan, "Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya.
Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan" (ayat 20-2 1). Hal ini membutuhkan kekuatan yang nyata dari karakter ingin membantu dan melayani sesama anda ketika seorang manusia dengan secara langsung ingin menghancurkan diri anda! Hal ini membutuhkan hikmat rohani untuk sadar bahwa sesama kita sebenarnya adalah seorang manusia yang diciptakan sesuai dengan gambar dan rupa Allah. Mereka melakukan hal-hal yang demikian oleh karena mereka pada saat ini salah arah baik di dalam tindakan dan pikiran mereka.
Tindakan Kejahatan Terbesar Manusia
Kelihatannya, tindak kejahatan terbesar yang dilakukan oleh umat manusia adalah peperangan. Jutaan manusia yang diciptakan sesuai dengan gambar dan rupa Allah telah dibantai tanpa belas kasihan selama berabad-abad di dalam peperangan yang tidak berguna, tidak masuk akal, dan bodoh. Yang mana, di banyak kasus, peperangan tersebut dengan nyata gagal untuk mencapai tujuan yang telah mereka nyatakan! Hukum Allah, seperti yang diagungkan oleh Yesus Kristus, benar-benar menentang setiap jenis peperangan! Hampir kebanyakan pemimpin besar agama dan politik dunia mengetahui konsekuensi/hasil daripada peperangan. Sebelum pecahnya Perang Dunia II, Paus Pius II menyatakan: "Setiap hal itu akan dapat diperoleh dengan kedamaian; dan tidak ada sesuatu pun yang dapat diperoleh dengan peperangan." Salah seorang pemimpin militer dan juga juru bicara yang paling dihormati di zaman kita, Jenderal Douglas McArthur, menyatakan: "Sudah dari mulanya manusia ingin mencari kedamaian... .persekutuan militer, keseimbangan dari kekuatan-kekuatan yang ada, liga bangsa-bangsa, yang mana kesemuanya itu gagal dan hanya memimpin kepada peperangan yang dahsyat. Kehancuran yang parah dan total yang diakibatkan oleh peperangan pada akhirnya membuat manusia meninggalkan jalan pilihan ini. Bagaimanapun juga, kita memiliki kesempatan kita yang terakhir. Yang mana jika kita tidak memikirkan suatu sistem/cara yang lebih besar dan pantas, maka Armageddon akan segera terjadi. Sesungguhnya permasalahannya berhubungan dengan kehidupan keagamaan kita dan hal ini mengikutsertakan kehidupan rohani dan ibadah kita, yang tidak lain adalah suatu peningkatan karakter diri manusia yang akan disamakan/disinkronkan dengan kemajuan-kemajuan yang tidak tertandingi di dalam ilmu pengetahuan, seni, sastra dan segala perkembangan materi dan kebudayaan selama dua ribu tahun terakhir. Hal inilah yang harus kita pahami dan pikirkan secara sungguh-sungguh jika memang kita ingin menyelamatkan peradaban manusia. "Kesempatan terakhir" dari umat manusia adalah untuk bertobat dari dosa peperangan sebelum peperangan itu sendiri akan menghancurkan umat manusia, dan segala bentuk kehidupan dari planet ini! Jenderal MacArthur mengetahui bahwa permasalahan yang kita hadapi sesungguhnya bersifat dan berhubungan dengan kehidupan rohani kita, hal ini adalah masalah kekristenan yang mengikutsertakan pengetahuan tentang Allah yang benar! Selanjutnya ia menambahkan bahwa hal ini juga mengikutsertakan "perihal peningkatan karakter diri manusia."
Juru bicara paling hebat di sepanjang zaman adalah Yesus Kristus. Ia adalah seorang Juru Bicara dari pemerintahan atau Kerajaan Allah. Kristus mengatakan: "Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu." (Matius 5:43-44). Sesungguhnya, terdapat suatu bentuk berhala yang sangat dihormati dan rumit yang telah menyebar masuk ke dalam dunia pada saat ini di bawah nama "Kekristenan". Tetapi dapatkah bentuk berhala yang rumit ini bertahan terhadap kata-kata Yesus Kristus yang jelas tanpa menyatakan secara langsung bahwa hidupNya, ajaranNya, dan rohNya sungguh-sungguh mengutuk perihal peperangan tersebut? Banyak kehidupan manusia yang berakhir sebelum waktunya, lebih banyak penderitaan yang diderita, lebih banyak rumah yang hancur, banyak waktu dan harta yang terbuang akibat ganasnya peperangan di sepanjang sejarah manusia! Pahamilah bahwa peperangan tersebut tidak pernah memecahkan masalah manusia atau membawa kedamaian yang sesungguhnya. Sebaliknya, peperangan hanya akan melahirkan peperangan! "Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang." (Matius 26:52)
Ajaran Alkitab
Yesus Kristus datang ke dunia ini sebagai Pembawa Pesan tentang pemerintahan atau kerajaan Allah. Ia tidak ikut di dalam kancah politik atau peperangan dunia. Di dalam pembelaanNya akan hidupNya dihadapan Pontius Pilatus, Ia mengatakan: "Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini." (Yohanes 18:36). Seperti yang telah kita nyatakan sebelumnya yaitu bahwa hanya Allahlah yang berhak untuk mengambil kehidupan seorang manusia karena Dialah yang memberikan kehidupan tersebut. Oleh karenanya, hanya Allahlah yang memiliki hak untuk memerintahkan peperangan! Dan, seperti yang diajarkan oleh Yesus, Allah tidak memilih untuk menyuruh anak-anakNya/umatNya untuk melakukan perang bagiNya pada zaman ini. Yesus mengatakan bahwa pelayan-pelayanNya akan berperang ketika kerajaanNya ada di bumi ini, yang mana kerajaan tersebut belumlah datang pada saat ini. Melalui rasul Yakobus Allah menunjukkan bahwa perang tersebut sesungguhnya dihasilkan dari suatu jenis roh yang sangat bertolak belakang dengan roh yang Ia inginkan agar para pelayanNya miliki. "Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu? Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa." (Yakobus 4:1-2).
Pemerintahan Allah Akan Mengakhiri Peperangan
Yesus Kristus datang untuk memberitakan kabar baik tentang pemerintahan Allah. Pemerintahan tersebut di dasarkan atas kesepuluh perintah, yang tidak lain adalah hukum rohani Allah. Yesus mengagungkan hukum tersebut dan menunjukkan maksud dan tujuan rohaninya. Ia mengajarkan kepada kita bahwa jika kita membenci saudara kita, maka kita secara rohani telah bersalah dan melanggar perintah tentang pelanggaran untuk membunuh! Yesus mengajarkan bahwa manusia harus mematuhi hukum-hukum Allah dan mempersiapkan diri mereka bagi KerajaanNya yang tidak lama lagi akan datang, yaitu dengan membiarkan dan mengijinkan hukum-hukum Allah beserta karakter diriNya untuk diletakkan di dalam diri mereka. Ketika nantinya pemerintahan Allah ada di bumi maka hukumNya akan menyebar dan menjadi suatu standar dari tingkah laku bangsa-bangsa (Mikha 4:1-2). Pada saat itu, Allah sendiri akan mengadakan peperangan untuk menghukum bangsa-bangsa yang tidak mau mematuhi dan memberontak terhadap perihal hikmat dan keadilan Allah yang sempurna. Seperti bagi orang-orang dunia sendiri? "bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang" (ayat 3). Perang tersebut mengikutsertakan belajar untuk membenci dan membunuh. Orang-orang muda tidak akan lagi dipaksa untuk belajar suatu sikap bahwa untuk melawan hukum kasih Allah. Dwight D. Eisenhower pernah berkata "harapan manusia akan dunia yang damai tidak terletak pada basis-basis militer, melainkan pada suatu ide/pemikiran. Pemikiran tersebut adalah suatu konsep dari peranan hukum yang berfungsi sebagai alat untuk menyelesaikan sengketa di antara pemerintahan-pemerintahan yang ada." Baik di sadari atau tidak, mantan presiden ini menyatakan suatu fakta yang penting yaitu bahwa hanya pemerintahan Allahlah, yang didasarkan atas hukum-hukumNya, yang akan dapat memecahkan masalah dari umat manusia dan bangsa-bangsa! Yang mana umat Kristen yang benar haruslah bekerja dan berdoa bagi Kerajaan Allah yang damai, dan kita harus menyadari bahwa keinginan untuk perang adalah sesungguhnya keinginan untuk membunuh, dan oleh karenanya kita harus menghindarinya dengan seluruh kekuatan kita.
Berbicara dihadapan Liga Bangsa-Bangsa, pendeta Amerika, Dr. Harry Emerson Fosdick beberapa tahun yang lalu mengutarakan suatu pemikiran dengan kuat yang bahkan masih terngiang sampai hari ini: Kita tidak dapat menyatukan Yesus Kristus dan peperangan, itulah hal mendasar yang harus kita ketahui. Itulah suatu tantangan yang seharusnya mengetuk hati nurani umat Kristen. Peperangan sesungguhnya adalah suatu dosa sosial yang paling besar yang bersifat menghancurkan dan menyebabkan umat manusia menderita. Peperangan adalah sesungguhnya bukan suatu cara hidup kristen dan karenanya tidak dapat dibenarkan; segala metode dan dampak dari pada peperangan sungguh tidak pernah diinginkan oleh Yesus, dan peperangan adalah juga bukan suatu hal yang Ia kehendaki. Peperangan benar-benar bertentangan dengan segala doktrin kekristenan yang berhubungan dengan Allah dan manusia lebih daripada semua teori orang ateis yang pernah ada di bumi. Bukankah sesungguhnya merupakan suatu hal yang indah untuk melihat Gereja Kristen menganggap hal ini, perihal permasalahan moral di zaman kita ini, sebagai suatu permasalahan yang harus ia pecahkan, dan untuk menyaksikannya menjalankan sekali lagi fungsinya seperti di zaman para bapa leluhur, di dalam menyatakan suatu standar yang jelas untuk melawan doktrin berhala dari dunia pada saat ini, menolak untuk tinggal diam, serta untuk menempatkan Kerajaan Allah di atas nasionalisme dan memanggil dunia untuk berdamai. Hal ini bukanlah penyangkalan terhadap patriotisme tetapi justru beginilah cara patriotisme diwujudkan."
Hal utama yang harus diketahui adalah bahwa Yesus Kristus menentang seluruh bentuk dan keinginan dari membunuh. Ia menentang peperangan, dan bahkan suatu hari nanti Ia akan menghentikan segala peperangan yang ada! Ia menentang segala kejahatan, keirihatian dan kebencian. Yesus Kristus mengajarkan umat manusia "kebesaran hati" dan sucinya kehidupan manusia yang "diciptakan menurut dengan gambar dan rupa Allah". Bapa dari Yesus Kristus yang agung, Allah yang Maha Kuasa yang memerintah alam semesta dari takhtaNya di sorga, menggunturkan perintah "Janganlah engkau membunuh" kepada zaman yang dipenuhi dengan kejahatan dan pemberontakan.
Prepared by:
Bambang Wiyono
081 2327 3886
Website:
http://muridyesuskristus.blogspot.com
Milis :
http://groups.yahoo.com/group/fullgospel_indonesia
Catatan : Sebagai umat Kristen, kita harus hidup seperti Yesus Kristus hidup ( I Yoh 2:6 ), yaitu mentaati dan melaksanakan KESEPULUH PERINTAH ALLAH, jangan sampai ada satu perintahNya yang dilanggar, agar kita hidup berkenan dihadapanNya

Perintah Ketujuh

Perintah Ketujuh
Oleh : Roderick C. Meredith, Living Church of God
Apakah "kecocokkan di dalam seks" adalah hal yang paling penting di dalam pernikahan? Pada zaman yang banyak dipenuhi dengan ketidakharmonisan dan kehancuran rumah tangga, serta kenakalan remaja dan ide-ide psikologi modern, banyak orang yang mengiyakan hal tersebut. Sayangnya kenyataan mengatakan hal yang berbeda. Semakin "modern" teori tentang pernikahan dilaksanakan, semakin tinggilah tingkat perceraian dan semakin rendahlah jumlah rumah tangga yang berbahagia. Adalah suatu hal yang tidak mengenakkan untuk melihat suatu kenyataan bahwa ternyata hampir separuh dari seluruh pernikahan di Amerika berakhir di pengadilan dengan perceraian. Pernikahan memang berakhir namun penderitaan, kekhawatiran dan rasa pedih tidak. Ketahuilah bahwa bagi anak-anak yang berasal dari rumah tangga yang hancur, segala tahun-tahun kehidupan mereka yang dipenuhi dengan frustasi dan kehampaan pada kenyataannya hanyalah permulaan. Sebenarnya adakah arti yang nyata dari sebuah pernikahan yang harus dipahami oleh pria dan wanita modern? Adakah hukum-hukum dan prinsip yang diberikan oleh Allah yang dapat melindungi sebuah pernikahan umat Kristen dan membuatnya bahagia serta penuh arti?
Perintah Ketujuh Dinyatakan
Allah sang Pencipta menyisihkan dua dari sepuluh perintah rohaniNya yang disebut Kesepuluh Perintah untuk melindungi hubungan yang ada di dalam sebuah rumah tangga dan keluarga. Di dalam buklet ini, kita telah mendiskusikan perintah pertama dari kedua yang disisihkan oleh Allah tersebut: "Jangan berzinah." (Keluaran 20:14). Allah yang maha kuasa memberikan perintah ini untuk melindungi kesucian dan kehormatan dari pernikahan. Dengan segera setelah perintah yang keenam yang menyatakan tentang kesucian dari kehidupan seorang manusia, Allah memberikan hukum yang ketujuh ini untuk melindungi hubungan yang paling tinggi di bumi ini. Oleh karena pernikahan dan rumah tangga adalah dasar dari masyarakat. Kata-kata dari perintah ini secara langsung melarang percabulan sebagai suatu hal yang melanggar hak-hak suci dari hubungan pernikahan. Maksud dari pada perintah ini membuat jelas suatu kenyataan bahwa seluruh tindakan yang tidak suci sebelum pernikahan adalah suatu hal yang salah dan tidak baik bagi masa depan pernikahan, sedangkan ketidaksetiaan sebelum pernikahan itu sama melanggarnya dengan perzinahan yang dilakukan setelah pernikahan. Perintah ketujuh mencakup segala bentuk kegiatan seks yang tidak baik/suci, termasuk hubungan homoseksual yang dilakukan oleh pria dengan pria dan wanita dengan wanita, suatu hal yang merupakan dosa paling besar yang ada di dunia Barat pada saat ini. Pernikahan di dalam pandangan Allah adalah suatu hal yang berharga, benar, dan suci yang tidak boleh di nodai! Sesungguhnya, pernikahan dan rumah tangga yang tidak berbahagia atau hancur yang ada di zaman ini butuh untuk memahami arti dan tujuan besar dari pernikahan di dalam rencana Allah.
Tujuan daripada Pernikahan
Adalah tidak mungkin untuk memahami arti yang benar dari pernikahan tanpa pertama kali memahami bahwa seks dan pernikahan tersebut diberikan dan disahkan oleh Allah. Dengan tidak mengikut sertakan Allah di dalam gambaran besar pernihakan, seperti yang banyak dilakukan oleh orang-orang di zaman modern ini, maka mereka sesungguhnya tanpa disadari merendahkan persatuan pernikahan dan menjadikannya seperti hubungan binatang. Perhatikan tujuan Allah di dalam menciptakan pria dan wanita! "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." (Kejadian 2:18). Allah melihat bahwa seorang pria belumlah lengkap di dalam dirinya sendiri, dan akhirnya Ia memutuskan untuk menciptakan seorang "penolong" yang pantas bagi dirinya, seorang pribadi yang mana seorang pria dapat benar-benar berbagi kehidupannya. Jadi tujuan yang pertama dan utama dari pernikahan adalah untuk membuat pria dan wanita menjadi lengkap. Masing-masingnya tidak akan lengkap tanpa yang lainnya.
Seorang diri laki-laki tidak akan dapat memenuhi tujuan Allah yang agung akan penciptaan dirinya, ia tidak akan dapat belajar untuk mengembangkan karakter-karakter yang Allah inginkan. Oleh karenanya hendaklah kita mengingat bahwa Allah menciptakan wanita sebagai seorang "penolong" bagi pria dan, pada saat penciptaan, menunjukkan bahwa mereka harus tinggal bersama sebagai suami dan istri di dalam kesatuan daging, serta berbagi akan setiap hal di dalam kehidupan mereka, yang mana hal ini akan membuat kehidupan mereka penuh arti dan lengkap (paling tidak di dalam pengertian jasmani). Tujuan kedua dari seks dan pernikahan adalah untuk menurunkan anak-anak dan melatih mereka oleh karena Allah telah mengatakan kepada pria dan wanita "Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." (Kejadian 1:28). Dengan menurunkan anak-anak maka datanglah tanggung jawab dari melindungi dan melatih mereka. Suatu rumah tangga dan pernikahan yang stabil dan berbahagia sangatlah berhubungan dengan pemeliharaan dan pelatihan anak yang benar. Dan Allah memerintahkan: "Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu." (Amsal 22:6). Ingatlah bahwa rumah tangga dan keluarga itu membentuk dasar dari suatu masyarakat yang baik! Pengembangan karakter itu sesungguhnya dipelajari di rumah, seperti kesabaran, pengertian, kebaikan, dan semua karakter yang Allah inginkan untuk ada di dalam diri kita selama-lamanya, sedangkan hubungan keluarga adalah salah satu tempat terbaik di mana karakter tersebut dapat dipelajari! Lebih baik dari tempat manapun, pengembangan dari kebaikan, rasa loyalitas dan tanggung jawab sesungguhnya dipelajari dalam rumah tangga yang berbahagia dan seimbang. Juga, untuk membuat diri kita lengkap, dengan memperanakkan dan melatih anak-anak, maka datanglah tujuan terbesar ketiga dari hubungan seks dan pernikahan. Hal tersebut tidak lain adalah untuk mengembangkan karakter diri di dalam lingkungan rumah dan hubungan keluarga. Ingatlah bahwa kerajaan dan hukum Allah tersebut di dasarkan atas kasih. Yesus mengatakan: " dalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." (Kisah Para Rasul 20:3 5). Untuk mematuhi hukum Allah tentang pernikahan, pria dan wanita haruslah saling sungguh-sungguh memberi di dalam setiap fasa dan tahapan dari kehidupan mereka.
Hubungan Pernikahan Tersebut Menggambarkan Hubungan Antara Kristus dan JemaatNya
Oleh karena hubungan pernikahan tersebut diperintahkan dan ditahbiskan oleh Allah, maka kesatuan pernikahan tersebut adalah merupakan suatu hubungan kesatuan yang suci. Dan karena sangat sucinya hubungan ini maka Allah di dalam FirmanNya, menggunakan kesatuan pernikahan ini sebagai suatu hal (suatu model atau paralel) yang sama dengan hubungan antara Kristus dan JemaatNya! Perhatikanlah Efesus 5:22-24: "Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu". Disini Allah menunjukkan bahwa di dalam sebuah rumah tangga Kristen, seorang istri haruslah menyerahkan dirinya kepada suaminya yang berkedudukan sebagai kepala rumah tangga. Hal ini dilakukannya sama seperti ketika ia harus belajar untuk menyerahkan dirinya kepada Kristus sampai selama-lamanya! Di dalam hubungan yang suci ini, ia mempelajari suatu pelajaran yang penting dari rasa dan sikap setia yang abadi!
Kemudian para suami diberitahukan: "Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya... .Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri." (ayat 25, 28). Yesus Kristus melayani, membantu, melatih, melindungi dan bahkan akhirnya memberikan diriNya sendiri bagi JemaatNya. Jadi para suami haruslah melindungi, menyediakan, memimbing, memberi semangat, mencintai dan memberikan diri mereka kepada istri mereka! Seorang pria Kristen haruslah menjadi kepala dari rumah tangganya dan ia harus menggunakan tugas dan kedudukannya tersebut untuk melayani dan memberikan perlindungan, bimbingan, dan kebahagiaan kepada istri dan keluarganya. Allah yang maha kuasa memberikan tanggung jawab kepadanya untuk menjadi seorang kepala yang baik! Karena pelajaran dan tujuan yang besar di dalam pernikahan, Allah mengatakan: "Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging." (ayat 31). Di dalam persatuan pernikahan, pria dan wanita dibuat menjadi satu. Hubungan mereka ini menggambarkan hubungan yang abadi, saling mengasihi dan melayani sama seperti hubungan yang dimilik oleh Kristus dan JemaatNya. Oleh karenanya, tidak boleh terdapat suatu hal apapun diantara mereka.
Pelajaran pernikahan ini akan mengajarkan kepada kita kesetiaan yang abadi kepada Yesus Kristus Kepala kita! Dan oleh karenanya maka jika seseorang memisahkan diri dari pasangan yang diberikan oleh Allah kepada dirinya, hal ini memiliki pengertian suatu kegagalan untuk mempelajari pelajaran yang diinginkan oleh Allah untuk kita pelajari di dalam pernikahan. Hal tersebut adalah suatu pemberontakan kepada Allah yang maha kuasa, suatu penyangkalan terhadap kebijakanNya di dalam mensahkan persatuan pernikahan yang membuat kita menjadi "satu daging" dengan pasangan kita! Bagaimanakah kita dapat setia kepada Allah untuk selama-lamanya jika kita dengan egois menolak untuk setia kepada pasangan kita yang hanya hidup bersama kita untuk waktu yang sebentar saja? Bagaimanakah kita dapat setia kepada Allah jika kita gagal untuk mempelajari pengembangan karakter dari kesabaran, kebaikan, ketekunan, pengendalian diri, kasih dan kesetiaan di dalam persatuan pernikahan yang suci?
Apakah Yang Diajarkan Oleh Yesus Kristus
Sekarang jadilah semakin jelas mengapa Yesus Kristus mengajarkan kualitas bersabar/bertahan di dalam janji pernikahan. Ketika Yesus ditanya oleh orang Farisi yang munafik mengapa Musa mengijinkan perceraian di zaman Wasiat Lama, Ia menjawab: "Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah." (Matius 19:8-9). Ingat dan ketahuilah bahwa suatu perceraian sesungguhnya hanya akan menghasilkan perceraian yang lainnya! Jika kita mencoba mengingat maka nyatalah bahwa perceraian yang sudah lazim terjadi pada saat ini sesungguhnya sangat jarang sekali atau hampir tidak pernah kita dengar 50 tahun yang lalu. Para pemimpin agama pada saat itu dan sebelumnya telah memperingatkan kepada kita bahwa jika perceraian itu di toleransi, maka kita tidak akan memiliki kekuatan yang cukup untuk mempertahankan keutuhannya. Sungguh itulah hal yang kita lihat pada saat ini! Suatu kebenaran dari peringatan ini! Kita sekarang melihat suatu kenyataan yang menyedihkan yaitu bahwa banyak pernikahan yang berakhir di pengadilan perceraian manusia! Sesungguhnya, apakah yang akan dapat didapatkan atau dilakukan oleh seorang manusia setelah perceraian? Tidak lain umumnya adalah mencari pasangan yang lain, yaitu pasangannya yang kedua atau bahkan pasangannya yang ketiga, atau keempat untuk memenuhi keinginannya. Yang mana Allah sesungguhnya menginginkan inidividu tersebut untuk memenuhi, mewujudkan, dan menyalurkan keinginannya di dalam pernikahan yang suci dan agung dengan pasangannya yang pertama yang di banyak kasus masih hidup di saat pernikahan yan berikutnya terjadi. Sungguh hal ini adalah suatu kenyataan yang menyedihkan dan suatu kemerosotan sebuah bangsa!
Meskipun Allah mengijinkan perceraian bagi beberapa keadaan tertentu, adalah sangat lebih baik bagi setiap pasangan pernikahan untuk belajar membantu dan melayani dan mengampuni antara satu dengan lainnya, oleh karena hal itulah yang akan dapat mempertahankan kesatuan pernikahan yang kuat. Suatu pernyataan dari Yesus yang amat terkenal sebagai pengecualian, "kecuali karena zinah [porneia]" (Matius 19:9), sesungguhnya haruslah dilakukan sebagai jawaban terakhir dan bahkan setelah doa, dan melalui sesi konseling yang panjang dan usaha yang bersungguh-sungguh untuk menyelamatkan pernikahan. Hal yang sama diaplikasikan juga terhadap keputusan ijin rasul Paulus bagi umat Kristen untuk menikah kembali jika diterbengkalaikan oleh seorang pria yang tidak bertobat. (1 Korintus 7:15).
Pernikahan Tersebut Disahkan dan Diberikan Oleh Allah
Pada saat ini kita dapat melihat bahwa pernikahan bukanlah sesuatu hal yang hanya berevolusi melalui perkembangan pemikiran manusia dan peradaban mereka. Oleh karenanya ketahuilah bahwa pernikahan itu sesungguhnya diberikan dan diperintahkan oleh Allah Pencipta. Ia mensahkannya sebagai suatu persekutuan yang suci yang menggambarkan kesetiaan yang abadi dari hubungan antara Kristus dan JemaatNya! Setiap bentuk perzinahan dipandang sebagai suatu hal yang sangat salah dan jahat. Hal ini terjadi oleh karena pernikahan tersebut adalah suci dan agung di dalam pandangan Allah yang maha kuasa. Perzinahan itu tidak hanya akan memedihkan kehidupan dan diri suami atau istri yang terkait, namun juga rumah tangga mereka dan anak-anak mereka. Hal ini adalah suatu hal yang tidak baik bagi masyarakat karena perzinahan tersebut dapat menghancurkan pondasi utama dari suatu masyarakat yang baik. Dan yang terlebih adalah karena perzinahan merupakan perlawanan terhadap Allah dan institusi yang telah Ia sahkan.
Di Amerika dan Inggris pada saat ini, mereka sebagai suatu masyarakat yang menolak Allah, sering kali mencari suatu pernikahan yang ideal versi Hollywood. Pria dan wanita dengan secara tidak kentara diberi semangat untuk menghancurkan perjanjian pernikahan, yaitu ketika istri atau suami masa muda mereka tidak dapat memenuhi pikiran dan keinginan egois mereka. Di dalam masyarakat "yang ruwet dalam hal pernikahan", manusia gagal untuk mempelajari pelajaran-pelajaran dasar dari karakter yang sesungguhnya dapat dan harus diajarkan oleh pernikahan, karakter untuk memperhatikan pasangannya, kesabaran, belas kasihan, kerendahan hati, kepelayanan dan kesetiaan mereka yang abadi. Demikian juga, mereka gagal untuk memikirkan penderitaan dan frustasi anak-anak dari pernikahan mereka, anak-anak tersebut akan mendapatkan luka yang sulit diperbaiki baik di dalam kehidupan dan pikiran mereka, yang mana kesemua luka tersebut akan terus mereka bawa ke masa depan, dan bahkan kemungkinan akan berdampak kepada kehidupan dan pernikahan mereka di masa mendatang.
Sesungguhnya, meskipun Allah mengijinkan beberapa pernikahan dan rumah tangga kandas oleh perceraian, perceraian pada kenyataannya adalah sesuatu yang dibenci oleh sang Pencipta kita. "Sebab Aku membenci perceraian, firman TUHAN, Allah Israel -- juga orang yang menutupi pakaiannya dengan kekerasan, firman TUHAN semesta alam. Maka jagalah dirimu dan janganlah berkhianat!" (Maleakhi 2:26). Sekali lagi, " .....Oleh sebab TUHAN telah menjadi saksi antara engkau dan isteri masa mudamu yang kepadanya engkau telah tidak setia, padahal dialah teman sekutumu dan isteri seperjanjianmu." (ayat 14). Dengan jelas Allah membenci perceraian meskipun Ia mengijinkannya. Untuk mempelajari pelajaran-pelajaran yang Allah inginkan di dalam pernikahan, umat Kristen yang benar harus "mendekatkan diri" kepada pasangan mereka baik di dalam tubuh, pikiran dan tingkah laku. Mereka harus dengan tekun berusaha untuk saling memahami, berbagi rencana, harapan dan mimpi dengan lepas dan gembira. Dan dengan bantuan Allah, mereka akan dapat menyingkirkan berbagai macam nafsu dan pikiran berzinah yang muncul di dalam diri mereka. Dosa akan nafsu birahi akan lebih dapat dipahami ketika anda menyadari tentang bagaimana sucinya hubungan seks di dalam pernikahan bagi Allah sang Pencipta. Dan ingatlah bahwa keinginan untuk berzinah dan bercerai dan nikah kembali itu biasanya di mulai dari dalam hati.
Perhatikan tentang bagaimanakah Yesus Kristus menerangkan hal ini ketika Ia menyucikan dan memperbesar aplikasi serta arti daripada hukum Allah: "Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya" (Matius 5:27-28). Disini Yesus mengajarkan kepada kita bahwa anda ternyata sudah dinyatakan melanggar perintah ketujuh ketika anda membiarkan pikiran anda dipenuhi dengan nafsu birahi seks terhadap orang lain. Ingatlah bahwa suatu tindakan tersebut dilahirkan dari suatu pemikiran. Hal ini adalah bagian dari pengembangan karakter Kristen bagi setiap orang yang takut akan Allah untuk mempelajari, membimbing dan mengarahkan pikiran-pikiran mereka jauh dari segala nafsu dan keinginan yang tidak pantas.
Sementara itu, di dalam dunia industri yang mengendalikan media paling realistik dan hidup yang dapat mempengaruhi dan menggerakkan orang muda untuk bertindak, film dan televisi memberikan penekanan atas produksi mereka yang terus meningkat di dalam hal seks atau kekerasan, atau kombinasi dari keduanya. Sesungguhnya masyarakat modern kita sedang membayar suatu upah yang mengenaskan bagi dosa mengerikan yang menyebar ini! Semakin banyak rumah tangga yang dihancurkan oleh perzinahan yang dilakukan baik oleh salah satu atau bahkan kedua pasangan. Jumlah rumah tangga yang hancur di dalam perceraian juga meningkat. Semakin banyak anak yang ditinggalkan tanpa kasih sayang, dan bimbingan dari kedua orang tuanya! Sedangkan hubungan sebelum pernikahan yang disebut "perzinahan" oleh Allah adalah suatu tindakan yang tidak pantas yang semakin menjadi wabah diantara anak-anak muda di dalam masyarakat pada saat ini. Dan segala hal yang kita teliti tadi adalah hal-hal dapat menyebabkan kita melanggar perintah ketujuh! Anak-anak muda yang merendahkan dan menghancurkan kebahagiaan pernikahan masa depan mereka melalui hubungan seks pra nikah akan sungguh-sungguh merusak kehidupan masa depan mereka di dalam kehidupan sekarang ini. Dan jikalau mereka tidak bertobat dan berhenti melakukan hal yang tidak pantas ini, maka dengan kata lain mereka memaksa Allah untuk mengeluarkan mereka dari kerajaanNya dan membatalkan untuk memberi mereka hidup yang kekal yang sesungguhnya dapat membahagiakan mereka (1 Korintus 6:9- 10). Ingatlah bahwa hukum Allah itu selalu ditujukan untuk kebaikan kita dan untuk kebaikan orang-orang di sekitar kita. Dan karenanya maka hukum-hukum tersebut haruslah dipatuhi. Sesungguhnya kita harus memiliki rasa takut untuk diperhitungkan sebagai orang-orang "asusila" yang layak untuk "dihancurkan" di dalam lautan api dan bara, yang tidak lain adalah kematian kedua! (Wahyu 21:8).
Mematuhi Perintah Ketujuh
Allah memberikan beberapa nasihat yang penting bagi mereka yang tergoda untuk melakukan percabulan atau perzinahan. Di dalam zaman yang dipenuhi dengan rangsangan dan nafsu seks ini adalah sangat berguna untuk mendengarkan nasihat ini jika anda memang ingin masuk ke dalam Kerajaan Allah dan mendapatkan hidup yang kekal. Allah mengatakan, "Jauhkanlah dirimu dari percabulan! (1 Korintus 6:18). Ia tidak mengatakan kepada anda untuk membiarkan pikiran anda mengagumi ide-ide dan keinginan-keinginan seksual. Ia juga tidak berkata jika anda dapat membiarkan diri anda sendiri berhubungan dengan seseorang yang sudah berpasangan atau seseorang yang secara seksual anda tergoda. Ia juga tidak berkata bagi anda untuk melihat film atau acara televisi atau membaca buku yang dengan salah dapat membangkitkan gairah keinginan seksual anda. Allah berkata bahwa anda harus dapat dengan sekuat tenaga mengeluarkan segala hal buruk sejauh-jauhnya! Ia mengatakan kepada anda untuk keluar dari segala keinginan yang dapat mengarah kepada godaan dosa seks.
Seks bukanlah suatu mainan yang dapat dibuat mainan atau dibuat eksperimen. Melainkan seks haruslah dipandang sebagai suatu berkat yang diberikan oleh Allah didalam persatuan pernikahan yang suci dan agung yang diperintahkan dan disahkan oleh Allah sang Pencipta. Seks haruslah dipandang dengan rasa hormat sebagai suatu ungkapan dari rasa kasih yang tidak egois di dalam persatuan Kristen yang menggambarkan kesetiaan abadi dari hubungan yang dimiliki oleh Kristus dan JemaatNya! Generasi pada saat ini sungguh sangat butuh untuk mempelajari arti dari kesetiaan yang abadi di dalam pernikahan dan rumah tangga! Untuk melakukan hal ini diperlukan baik tulisan dan sikap dari pada perintah ketujuh: "Jangan berzinah" (Keluaran 20:14).
Prepared by:
Bambang Wiyono
081 2327 3886
Website:
http://muridyesuskristus.blogspot.com
Milis :
http://groups.yahoo.com/group/fullgospel_indonesia
Catatan : Sebagai umat Kristen, kita harus hidup seperti Yesus Kristus hidup ( I Yoh 2:6 ), yaitu mentaati dan melaksanakan KESEPULUH PERINTAH ALLAH, jangan sampai ada satu perintahNya yang dilanggar, agar kita hidup berkenan dihadapanNya

Perintah Kedelapan

Perintah Kedelapan
Oleh : Roderick C. Meredith, Living Church of God
Setelah Allah, dari puncak gunung Sinai, menggunturkan perintah-perintah yang menyatakan kepada manusia tentang bagaimanakah cara menyembah yang benar atas diriNya dapat dilakukan, beserta hukum-hukum yang melindungi hubungan paling suci antar manusia, yaitu rumah tangga, keluarga dan kehidupan manusia itu sendiri, Allah kemudian memberikan perintah yang kedelapan. Perintah yang kedelapan ini berhubungan dengan perlindungan atas hak milik dan barang pribadi: "Jangan mencuri" (Keluaran 20:15).
Oleh karena manusia tidak berpikir bahwa Allah yang memberikan perintah itu adalah nyata, dan mereka pun juga tidak memiliki rasa takut untuk mematuhi hukumNya, maka kita pada akhirnya mengalami banyak pencurian barang-barang yang lebih tinggi dari waktu-waktu sebelumnya. Ternyata kita juga merusak perintah ke delapan di dalam banyak cara melalui suatu sistem moral yang semakin lama semakin melemah. Setelah mendiskusikan beberapa hal mendasar untuk menipu pesaing bisnis atau pelanggan mereka, para eksekutifmengangkat pundak mereka dan berkata: "Wah, bisnis itu ya begitu itu". Atau setelah suatu pertemuan yang berkenaan dengan penggunaan pengukuran yang tidak semestinya, kualitas yang tidak baik atau iklan yang menipu, seorang pelaku bisnis akan berkata: "apakah bedanya? Jika saya tidak melakukannya maka orang lain pasti akan melakukannya."
Ketika menipu pemerintah atau membutakan pajak pendapatan, sebuah frasa umum Amerika yang digunakan untuk mengurangi rasa bersalah seseorang adalah: "biarlah Uncle Sam berlelah-lelah pada saat ini. Bagaimanapun juga, pemerintah sudah terlalu banyak mengambil uang. Jadi bagaimana? Ya, jadi harus bagaimana? Apakah hal ini "hanya urusan bisnis"? Memang, tetapi ketahuilah bahwa hal ini adalah urusan bisnis Allah, dan Ia telah memberikan suatu hukum yang menyatakan: "Janganlah mencuri". Ketika anda melanggar hukum Allah, maka anda akan hancur! Karena hukum Allah adalah hukum yang nyata, dan aktif sama seperti hukum gravitasi. Ketika anda melanggarnya, anda akan menuai hukuman dan hal tersebut adalah pasti.
Hak Perlindungan Akan Barang Kepemilikan
Berdasarkan firman Allah dan hukumNya, hanya terdapat dua jalan yang benar yang mana anda dapat memiliki sesuatu. Pertama kali adalah oleh pemberian yang cuma-cuma atau oleh warisan dari sesama atau dari Allah sendiri. Yang kedua adalah dengan kerja keras yang jujur di mana anda dapat mendapatkan upah yang sah. Selain dua cara yang ada tersebut, maka segala cara yang digunakan oleh manusia untuk memiliki sesuatu hal adalah mencuri, yaitu mengambil sesuatu yang bukan miliknya.
Perintah kedelapan mengkonfirmasikan kepemilikkan barang secara sah dan melarang pencurian. Hal ini penting untuk diperhatikan bahwa secara prinsip, perintah kedelapan melarang segala bentuk komunisme yang menolak hak manusia untuk memiliki suatu barang. Hal ini juga melarang pencurian internasional atas barang-barang dan harta milik baik warga negara mereka sendiri maupun negara lain oleh pemerintah-pemerintah di dunia. Dan, sebagai suatu hal yang memalukan selama bertahun tahun, sesungguhnya semua bangsa telah bersalah atas pelanggaran hukum Allah ini! Orang muda pada saat ini belajar untuk melakukan pencurian di dalam skala yang besar dan rapi terorganisir. Bukan saja mereka mencuri ribuan barang-barang dari toko, sekolah dan bahkan gereja, tetapi juga secara teratur mereka mengorganisir suatu sistem yang kompleks dan rumit untuk menipu di dalam ujian dan latihan baik sekolah dan kampus. Karena sering kali hal ini dipandang hanya dengan sebelah mata dan dianggap tidak berbahaya, maka hal ini tumbuh dengan sangat pesat seperti yang belum pernah dibayangkan sebelumnya. Tetapi apa yang belum diberitahukan kepada orang muda adalah bahwa mencotek di dalam ujian adalah mendapatkan nilai secara ilegal yang mana hal ini sama dengan mencuri. Dan oleh karenanya maka hal ini secara langsung melanggar perintah Allah yang kedelapan!
Para pelaku industri dan pedagang yang menggunakan takaran timbangan yang tidak akurat atau palsu, atau kualitas bahan produk yang jelek dengan tujuan menyesatkan khalayak umum adalah sama salahnya dengan melanggar perintah kedelapan yaitu melakukan tindakan pencurian! Ia berusaha untuk mendapatkan keuntungan yang lebih dengan cara yang tidak sah dari produknya. Dengan melihat keuntungan yang tidak halal ia berharap mendapatkan sesuatu yang ekstra untuk sesuatu yang tidak ada. Secara prinsip, dengan jelas ia melakukan pencurian! Walaupun begitu, di dalam banyak kasus dari tindakan yang tak mengenal hukum dan penuh dengan penyesatan seperti ini, Allah sesungguhnya mengetahuinya.
Pencurian Melalui Iklan Yang Menyesatkan/Palsu
Salah satu dari dosa terbesar di dalam bidang komersial zaman ini adalah perihal iklan yang menyesatkan. Para konsumen dipimpin untuk memiliki suatu pengharapan bahwa "pil" tertentu, sebagai contohnya, akan dapat menyebabkan penurunan atau peningkatan berat badan, meningkatkan potensi, mengembalikan rambut yang tipis, atau apapun yang dapat disebabkannya. Dan, pada banyak kasus, pernyataan ini sesungguhnya adalah suatu kebohongan yang dilakukan tanpa keraguan. Praktek seperti ini, di dalam dampaknya, sesungguhnya mencuri dari orang yang membayar produk tersebut untuk mendapatkan hasil yang dijanjikan. Pada banyak kasus, korban-korban dari kebohongan besar ini tidak hanya dirampok uangnya tetapi juga kesehatan, kebahagian dan kesejahteraan pikiran mereka. Banyak pelaku bisnis dan pemimpin masyarakat yang terkenal mendapatkan posisi ini melalui berbagai macam penyesatan dan pencurian masal!
Sungguh kita butuh untuk bangkit! Hanya karena suatu dosa dapat dilakukan di luar tubuh dengan kelihatan seperti "terhormat", hendaklah kita mengingat bahwa Allah sesungguhnya adalah sang Hakim. Tentang hal ini Ia berfirman, "Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah" (1 Korintus 6:9-10). Walaupun hanya sedikit yang mengetahuinya, hendaklah kita selalu mengingat bahwa Allah sesungguhnya berkeinginan agar pelayanNya mendapatkan kemakmuran secara jasmani, selama mereka mendapatkannya secara jujur, yaitu selama mereka mendapatkannya secara jujur dan tidak memfokuskan hati mereka kepada hal-hal tersebut. Rasul Yohanes menuliskan: "Saudaraku yang kekasih, aku berdoa, semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja" (3 Yohanes 1:2).
Harta Yang Memudar
Lebih jauh lagi, kita harus menyadari bahwa suatu kekayaan dari seorang ahli industri yang pudar oleh karena tingginya angka kematian yang tidak seharusnya terjadi di dalam perusahaannya adalah suatu keuntungan yang didapatkannya dengan tidak benar, yang mana menurut Hukum Allah ia adalah seorang pencuri jika bukan seorang pembantai! Prinsip di belakang perintah kedelapan secara terus menerus dilanggar di dalam hubungan antara pemilik perusahaan dan buruh. Yakobus mendapatkan firman untuk memperingatkan pengusaha yang tidak jujur: "Sesungguhnya telah terdengar teriakan besar, karena upah yang kamu tahan dari buruh yang telah menuai hasil ladangmu, dan telah sampai ke telinga Tuhan semesta alam keluhan mereka yang menyabit panenmu." (Yakobus 5:4). Hal ini juga sama benarnya, khususnya di era yang penuh dengan perkumpulan buruh yang penuh korupsi ini, yaitu bahwa banyak pekerja yang melakukan pencurian terhadap para pemilik perusahaan mereka! Mereka melakukan hal ini dengan cara mau menerima upah mereka tetapi tidak melakukan pekerjaan mereka dengan sepenuh tenaga. Hal ini adalah mencuri! Terlalu sering seorang pekerja berbicara kepada rekannya: "Perlahan saja kerjanya teman, anda bekerja terlalu keras. Jika anda bekerja terlalu keras seperti itu maka kita semuanya harus melakukannya juga!" Para pekerja Inggris dan Amerika banyak sekali menghabiskan waktu kerja mereka secara tidak proporsional di dalam acara "minum teh", "minum kopi" dan "merokok". Yang mana hal ini sedikit banyak menyebabkan dunia industri kita terkalahkan di dalam era perang perdagangan dunia pada saat ini. Kurangnya produktivitas akan berdampak kepada nasib dari orang-orang Amerika Serikat dan Inggris! Perintah Allah yang kedelapan pada kenyataannya memiliki suatu pesan bagi sang pemilik perusahaan dan pekerjanya. Bagi yang memiliki perusahaan: "Upah satu hari yang sesuai bagi pekerjaan satu hari" Bagi buruh: "Pekerjaan satu hari yang sesuai bagi upah satu hari". Tetapi mencuri dari sesama kita bukanlah satu-satunya prinsip yang diikut sertakan di dalam perintah kedelapan. Allah memiliki kekayaan yang jauh lebih banyak dibandingkan manusia manapun (Hagai 2:8).
Mencuri dari Allah
Di dalam Malakhi 3, berbicara kepada keturunan Yakub atau Israel modern, Allah berkata: "Bolehkah manusia menipu Allah? Namun kamu menipu Aku. Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami menipu Engkau?" Mengenai persembahan persepuluhan dan persembahan khusus!" (ayat 8). Allah disini mendakwa bangsa Israel modern (negara-negara berbahasa Inggris modern) dengan tuduhan merampok sang Pencipta dan PekerjaanNya! Oleh karenanya, tidaklah mengherankan bahwa hanya terdapat sedikit agama yang benar yang tersisa di bumi kita pada saat sekarang ini! Demikian pula tidak mengherankan jika terjadi banyak kebingungan dan penyesatan dengan menggunakan nama Kekristenan! Allah melanjutkan: "Kamu telah kena kutuk, tetapi kamu masih menipu Aku, ya kamu seluruh bangsa! Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan" (ayat 9-10).
Hal ini adalah merupakan suatu tantangan yang besar dari Allah yang maha kuasa! Allah mengatakan bahwa Ia akan memberkati anda jika anda mulai melakukan persepuluhan seperti yang Ia perintahkan, yaitu melalui iman didalam diriNya dan firmanNya. Banyak sekali kasus di dalam sejarah yang dapat diceritakan tentang bagaimanakah Allah benar-benar memberkati orang yang melakukan persepuluhan bahkan di dalam hal jasmani. Ia mungkin tidak selalu melakukannya dengan cepat sejalan dengan anda harus mematuhiNya dan melatih iman anda untuk sementara waktu. Tetapi sejalan dengan anda melayani, mematuhi dan mempercayai diriNya, Allah akan melakukan bagianNya. Berkat anda akan sungguh-sungguh datang! Perhatikanlah surat yang menggembirakan ini yang ditulis oleh seseorang yang benar-benar percaya akan janji Allah: "Beberapa minggu yang lalu saya benar-benar berada di dalam suatu masa kesulitan ekonomi. Saya menerima sepuluh sen. Walaupun saya tergoda untuk tidak melakukan persepuluhan sebesar satu sen, pada akhirnya saya melakukan persepuluhan. Beberapa hari setelahnya saya menerima satu dolar. Sekali lagi saya tergoda untuk tidak melakukan persepuluhan karena kebutuhan yang banyak, namun pada akhirnya saya melakukan persepuluhan juga. Sekarang baru saja saya menerima 40 dollar dan sejalan dengan itu saya cepat-cepat memberikan persepuluhan kepada anda. Saya belajar untuk setia karena demikian adanya Allah setia kepada saya."
Perintah Kedelapan Yang Dijalankan Secara Positif
Penerapan positif yang pasti dari perintah kedelapan di nyatakan di dalam surat Wasiat Baru kepada jemaat di Efesus. "Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan." (Efesus 4:2 8). Pada satu sisi, bacaan ini mengutuk pencurian, di sisi yang lain, bekerja dan memberi adalah suatu garis besar dari jalan hidup dari penerapan positif dari perintah yang di perintahkan oleh Allah. Kekayaan dan harta milik adalah suatu hal yang didapatkan dari kerja yang jujur, yang bukan hanya untuk memuaskan keinginan dan kebutuhan pribadi tetapi agar kelebihan yang ada dapat diberikan kepada sesama yang membutuhkan. Hukum Allah di dalam artinya yang mendalam dengan jelas menyatakan bahwa seorang manusia tidak hanya dikatakan mencuri dengan mengambil harta milik orang lain, tetapi juga ketika mereka menolak untuk bekerja sehingga mereka dapat berbagi dan memberi kepada orang lain yang membutuhkan! Umat Kristen yang benar harus "Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan!" (Roma 12:13).
Sebagai manusia yang diperanakkan oleh Allah, kita nantinya akan menjadi sama seperti diriNya (Matius 5:48). Yesus mengatakannya: "Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga." (Yohanes 5:17). Pelajaran positif dari perintah kedelapan juga disimpulkan di dalam kata-kata Yesus yang inklusif ini, Kristus: "Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." (Kisah Para Rasul 20:3 5). Jika, melalui rohNya, kita dapat benar-benar belajar untuk hidup oleh kata-kata tersebut, maka kita akan benar-benar dapat memenuhi arti dan tujuan daripada perintah kedelapan tersebut!
Prepared by:
Bambang Wiyono
081 2327 3886
Website:
http://muridyesuskristus.blogspot.com
Milis :
http://groups.yahoo.com/group/fullgospel_indonesia
Catatan : Sebagai umat Kristen, kita harus hidup seperti Yesus Kristus hidup ( I Yoh 2:6 ), yaitu mentaati dan melaksanakan KESEPULUH PERINTAH ALLAH, jangan sampai ada satu perintahNya yang dilanggar, agar kita hidup berkenan dihadapanNya

Perintah Kesembilan

Perintah Kesembilan
Oleh : Roderick C. Meredith, Living Church of God
Ini adalah zaman yang penuh dengan kebohongan yang kompleks, standar ganda dari moralitas, atau sindrom "Enron". Ini adalah zaman dari pengacara, pemimpin industri, petugas pemerintah dan profesor kampus yang bertampang terhormat tetapi yang melakukan sumpah palsu di bangku para saksi dan bahkan di hadapan Senat Amerika Serikat. Zaman ini adalah juga zaman yang memiliki fakta yang menarik dari jutaan orang yang percaya kepada teori evolusi yang datang ke gereja-gereja dengan bertingkah laku seolah-olah percaya kepada Allah sang Pencipta yang tertulis di dalam Alkitab. Kristus benar-benar mengutuk para orang munafik di zamanNya. Dan karenanya apakah yang akan Ia katakan tentang generasi kita ini?
Masyarakat Yang Menghidupkan/Memelihara Suatu Kebohongan
Di dalam bukunya, Sex, Vice and Business (Seks, Keburukan, dan Bisnis), seorang pengarang terkenal Monroe Fry menuliskan tentang "keinginan dari masyarakat untuk melakukan tindakan buruk ketika hal itu dipandang mendatangkan suatu keuntungan yang tidak langsung bagi para kolega bisnis mereka." Di dalam bukunya ditunjukkan tentang apa yang telah diketahui oleh ribuan orang dewasa yaitu bahwa gereja dan para pemimpin sipil yang cukup terhormat sesungguhnya juga berkeinginan untuk mendukung kegiatan judi, prostitusi dan narkotika jika hal itu mendatangkan suatu keuntungan. Bagi masyarakat umum, mreka tampil dan tampak sebagai penopang dari kebaikan dan kehormatan. Bagi mereka yang mendapatkan keuntungan dari bisnis prostitusi, narkotik atau gembong judi besar, mereka siap untuk melakukan "transaksi rahasia." Mereka siap untuk menggunakan pengaruh atau posisi sipil mereka untuk membiarkan suatu kejahatan dan tindak kriminal yang terorganisir berkembang di dalam masyarakat, dan mereka akan terus melakukannya selama mereka dapat memperoleh keuntungan finansial. Dengan tegasnya, mereka menjalankan kebohongan! Pengetahuan tentang seberapa jauhnya masyarakat "Kristen" kita didasarkan atas kemunafikan yang seperti ini amatlah mengejutkan! Bagaimanapun juga, kita harus membayar suatu penalti yang besar, karena kita telah melanggar perintah Allah yang kesembilan. Di dalam buklet ini, Kesepuluh Perintah dinyatakan secara rinci, yang mana kita telah melihat bahwa dosa terbesar adalah ketika kita mengesampingkan Allah, dan menaruh sesuatu yang lebih tinggi dariNya di tempat yang sesungguhnya diperuntukkan untukNya. Hal ini pada akhirnya akan memimpin kepada berhala, penghinaan terhadap nama Allah, pelanggaran hukum SabatNya, tindakan yang tidak menghormati orang tua, pembunuhan, percabulan dan pencurian. Prinsip yang sama juga diterapkan terhadap perintah Allah yang kesembilan.
Perintah Kesembilan Dinyatakan
"Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu." (Keluaran 20:16). Hanya di dalam mencari dan menjadi saksi akan kebenaran maka manusia terhubung dengan Allah. Karena Allah pada kenyataannya adalah kebenaran! Yesus mengatakan: "Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran." (Yohanes 17:17). Dan "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup." (Yohanes 14:6). Apapun kesalahan dan kelemahan yang dimiliki oleh seorang manusia, namun jika ia berkeinginan untuk berbicara dengan berterus terang tentang keadaannya yang sebenarnya, serta mengenal dan memperhatikan kebenaran ketika ditunjukkan kepadanya, maka orang tersebut akan dihormati dan mendapatkan bantuan untuk memecahkan masalah kelemahan pribadinya.
Aplikasi rohani yang lebih dalam dari perintah kesembilan sesungguhnya adalah besar. Ketahuilah bahwa di alam semesta ini terdapat Allah yang Maha kuasa yang jalan-jalan dan hukum-hukumNya adalah benar. Oleh karenanya, seorang manusia yang jujur yang berkeinginan untuk berbicara dengan terus terang dan benar, dan berkeinginan untuk memahami kebenaran ketika kebenaran itu ditunjukkan kepadanya, ia akan dengan pasti bertobat kepada Allah yang benar dan kepada jalan-jalan hidupNya! Tetapi jika seorang manusia senang mengucapkan kata-kata yang tidak baik, memiliki kebiasaan berbohong kepada orang lain (dan bahkan dirinya sendiri), di mana karakter dan mentalnya sangatlah sesat sehingga menghalangi pemahaman akan kebenaran Allah. Hal ini baru akan berhenti jika pikiran orang tersebut dibersihkan! Itulah mengapa hal ini sangat penting, yaitu bahwa meskipun orang memiliki perbedaaan pada banyak hal, pada kenyataannya kita semuanya harus belajar untuk hidup dan untuk berbicara sesuai dengan fakta yang ada dan tidak bersaksi dusta. Bagaimanapun juga, kita pada saat ini hidup didalam suatu masyarakat yang secara terus menerus di penuhi dengan berbagai macam bentuk ketidakbenaran, kemunafikan, dan penye satan diri. Jika kita memang menginginkan karakter Allah untuk dibangun di dalam diri kita, dan untuk mewarisi hidup yang abadi, maka kita harus memikirkan dan memperhatikan perintah yang kesembilan dengan berhati-hati di dalam segala hal, serta belajar untuk mematuhinya.
Ingatlah bahwa perintah yang kesembilan tersebut melindungi setiap orang benar, bahkan di dalam hal melindungi reputasi seseorang. Mungkin tidak ada dosa yang lebih tercela daripada bersaksi dusta/fitnah, suatu kebohongan yang diciptakan dan disebarkan dengan tujuan untuk menyakiti orang lain. Seorang pencuri hanya mengambil barang jasmani yang biasanya bisa diganti. Tetapi saksi dusta akan merampok reputasi dan kebanggaan seorang manusia dari mata sesamanya dan kesempatan untuk mengembalikan reputasi secara sepenuhnya tersebut amatlah sulit.
Keuntungan Praktis dari Kejujuran
Keuntungan langsung dari dapat bergantung kepada perkataan seorang manusia tidak hanya akan melindungi reputasi baik seseorang dan menghilangkan pembuangan waktu yang sia-sia dari beberapa kali masa investigasi bagi setiap pernyataan dan laporan, namun hal tersebut juga akan menghindarkan orang yang tidak pantas untuk menduduki posisi yang membutuhkan tanggung jawab yang besar. Sungguh hal tersebut akan membersihkan masyarakat kita! Sering, pada saat ini, seluruh bangsa dipimpin oleh para pemimpin yang dapat berkuasa hanya karena kemampuan mereka untuk memperdaya dan menyesatkan orang-orang mereka sendiri! Di seluruh dunia, kita melihat para diktator muncul dan memberikan pengikut-pengikut mereka janji-janji yang kosong. Dengan berbagai macam propaganda yang licik, seorang pemimpin dapat membuat orang percaya akan suatu kebohongan besar yang dirinya sendiri tahu. Dan setelahnya muncullah saat-saat yang tidak menentu, tahun-tahun yang tidak pasti yang dipenuhi dengan amarah dan kefrustrasian sampai akhirnya suatu bencana besar terjadi. Suatu bencana yang akhirnya mengungkapkan kebenaran yang sebenarnya.
Bahkan di dalam negara-negara yang demokratis, manusia sering direkomendasikan untuk menduduki jabatan yang tinggi, bukan karena kemampuan dan keintegritasan orang tersebut, tetapi berdasarkan apa yang kelihatan bijaksana di dalam politik partai. Para pemimpin politik dan pemerintah yang melakukan praktek seperti ini dengan jelas "memiliki kesaksian palsu" terhadap rekan sebangsanya sendiri! Mereka melakukan praktek berbohong dan juga membantu mereka yang melakukan hal yang sama. Di dalam bidang industri dan bisnis, marilah kita berpikir tentang begitu besar sesungguhnya keuntungan yang akan didapat oleh masyarakat jika setiap perusahaan mempromosikan produk mereka secara jujur dan dengan bersungguh-sungguh berkeinginan untuk melayani kebutuhan para konsumen! Dampak dari hal ini akanlah sangat menakjubkan! Pikirkanlah suatu masyarakat dimana setiap merek dari pasta gigi dan sereal untuk sarapan, sebagai contohnya, bukanlah suatu tiruan atau variasi dari produk yang sama, melainkan suatu produk tunggal yang paling baik pada jenisnya yang tertentu, dengan harga yang benar-benar cocok, dan yang secara benar pula diiklankan! Jika saja anda melakukan hal ini pada setiap sisi kehidupan masyarakat, maka anda akan mendapatkan suatu keadaan kehidupan yang penuh dengan kesejahteraan dan kedamaian. Ketahuilah bahwa hal ini bukanlah suatu nasihat isapan jempol belaka. Hal ini memang adalah berkat yang akan datang pada masyarakat yang benar-benar mematuhi perintah Allah yang kesembilan! Jika anda berkeinginan untuk hidup tanpa berkesudahan di dalam masyarakat yang berpedoman kepada Allah, maka Allah yang memberikan anda hidup dan nafas kehidupan memerintahkan: "Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota." (Efesus 4:25).
Melakukan Perintah Kesembilan di dalam Kehidupan Anda
Prinsip mendasar dari segala dosa adalah kesia-siaan/kesombongan: "Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia." (Pengkhotbah 1:2). Alasan yang nyata dari mengapakah kebanyakan manusia menolak Allah yang benar adalah bahwa karena mereka ingin untuk menjadi "ilah" pada pandangan mereka sendiri dan teman-teman mereka. Inilah yang disebut dengan kesia-siaan. Setiap dosa yang dilakukan oleh manusia sesungguhnya berakar pada prinsip mendasar ini. Demikian juga dengan segala bentuk kebohongan.
Orang berbohong karena mereka lebih mempedulikan harga diri, kebanggaan serta kepentingan diri mereka sendiri dibandingkan dengan kesejahteraan sesama mereka. Mereka berbicara kebohongan dan bertindak tidak benar oleh karena mereka lebih takut terhadap apa kata orang dibandingkan dengan apa yang dikatakan oleh Allah yang maha kuasa! Tindakan dan perkataan keseharian dari hampir semua manusia sungguh menyatakan kebenaran dari pernyataan ini. Seperti yang dikatakan oleh rasul Yohanes tentang bahkan para pemimpin agama di zamanNya, "Sebab mereka lebih suka akan kehormatan manusia dari pada kehormatan Allah." (Yohanes 12:43). Baik kaum pria maupun wanita sering kali merasa malu dengan apa yang mereka sebut "kegagalan" di dalam bidang atau perihal sosial. Mereka akan melakukan tindakan penipuan, pemalsuan, dan kebohongan untuk menghindari atau menutupi "kegagalan" yang seperti ini.
Tetapi dari cara pandang yang secara instrinsik "benar" dan bersifat "abadi", sesungguhnya hal yang harus mereka takutkan adalah dosa. Oleh karena, seperti yang dikatakan oleh rasul Paulus, "Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?" (Roma 8:3 1). Yesus mengatakan: "Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat." (Matius 5:11). Karenanya adalah lebih baik jika kita semuanya keluar dari perasaan khawatir yang berlebihan tentang berbagai macam hal sepele yang dapat dipikirkan oleh manusia dan mulai memiliki pemikiran yang jauh tentang apa yang dipikirkan oleh Allah yang maha kuasa! Dengan melakukan hal ini maka kita akan dapat belajar untuk menghentikan segala kemunafikan baik di dalam hal bisnis, kehidupan sosial, politik, dan tentu saja di dalam bidang agama dan ilmu pengetahuan. Ingatlah bahwa banyak dari mereka yang tidak terpandang dari dunia yang penuh dengan penipuan ini sesungguhnya telah menerima berkat dari Allah dan menjadi ahli waris dari hidup yang kekal. Janganlah pernah lupa bahwa Yesus Kristus dibunuh oleh karena dosa saksi dusta dan kebohongan! "Banyak juga orang yang mengucapkan kesaksian palsu terhadap Dia, tetapi kesaksian-kesaksian itu tidak sesuai yang satu dengan yang lain." (Markus 14:56).
Semenjak melalui kesombongan manusia ingin mempercayai hal apa pun yang terkenal pada saat ini, mereka pada kenyataannya membohongi baik diri mereka maupun teman-teman mereka sendiri untuk percaya kepada teori-teori agama dan ilmu pengetahuan yang sesungguhnya tidak berdasarkan pada suatu fakta yang nyata! Allah memperingatkan kita untuk menghindari segala bentuk kemunafikan yang seperti itu: "Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman." (Roma 1:18).
Manusia menindas kebenaran. Allah mengutuki mereka yang dengan nyata menekan kebenaran dari keberadaan dan tujuanNya di bumi ini! Allah berkata bahwa para filosof dan ahli pikir yang sia-sia dari dunia ini sesungguhnya "tidak dapat berdalih" untuk menerima suatu kenyataan bahwa Allahlah yang benar-benar menciptakan alam semesta ini, yang mana pada saat ini Ia sedang memerintah berdasarkan kekuatanNya (ayat 20). Kebanyakan ilmuwan dan ahli agama yang percaya pada teori evolusi yang sesungguhnya berasal dari Setan tersebut sesungguhnya harus mengetahui hal ini dengan lebih baik. Karena pada kenyataannya memang beberapa di antara mereka mengetahui dengan lebih baik! Tetapi mereka memang lebih senang dengan apa yang menggembirakan manusia dan oleh karenanya mereka melakukan kebohongan! Allah berkata bahwa mereka pada kenyataannya "tidak dapat berdalih"!
Dan di lain pihak terdapat para pelayan dan murid-murid Alkitab yang terus menerus mengajarkan dan melaksanakan apa yang mereka ketahui sebagai kepercayaan dan kebiasaan bangsa berhala kuno yang dikutuki oleh firman Allah. Di dalam banyak kasus, sesungguhnya mereka mengetahui lebih baik! Mereka tidak akan "kenal ampun". Pengajaran yang berkelanjutan dari hal kebohongan rohani dan ilmu pengetahuan ini adalah suatu hal yang pada kenyataannya sedang membutakan dunia ini untuk mengetahui keadaan alamiah Allah yang nyata dan tentang rencana dan tujuanNya yang benar di bumi ini. Ini adalah suatu akibat yang sangat mengenaskan dari kesaksian yang palsu, penyesatan diri sendiri dan kebohongan. Selama pemimpin yang dianggap "berpendidikan" dari dunia ini terus menyesatkan diri mereka dan orang lain di sekitar mereka tentang keberadaaan, kekuataan dan rencana Allah yang sesungguhnya, maka peradaban kita akan hancur!
Hidup oleh Kebenaran
Di dalam kehidupan pribadi anda, oleh karenanya, pelajarilah tentang betapa pentingnya mengatakan kebenaran, mempercayai kebenaran, dan hidup di dalam kebenaran. Berhati-hatilah untuk tidak mendasarkan kehidupan anda pada kebohongan, baik itu kebohongan yang bersifat pribadi, politik, ilmu pengetahuan atau penyimpangan nilai-nilai kebenaran agama. Dan ingatlah bahwa kebenaran Alkitab adalah kebenaran yang akan membebaskan anda (Yohanes 8:32). Di dalam pidato pribadi anda, hendaklah anda berhati-hati di dalam berkata-kata. Janganlah lupa bahwa seorang manusia itu di nilai dari kata-kata yang dikeluarkannya. Adalah hampir tidak mungkin untuk membantu seseorang yang telah terbiasa berbohong, karena tanggapan apapun yang sesungguhnya dapat membantu hanya akan mungkin menjadi suatu kecurangan yang lainnya. Salah satu kualitas dasar dari karakter Allah adalah bahwa Ia adalah kebenaran. Jika kita tidak dapat berpegang kepada firman Allah, maka kita tidak akan memiliki jaminan pengampunan dari dosa-dosa kita yang lama, atau bantuan ketika kita sedih pada saat ini, atau bahkan upah masa depan dan hidup yang abadi.
Jika anda tidak dapat bergantung kepada firman atau janji-janji Allah, dimana Ia pada kenyataannya memiliki kasih yang sangat besar beserta seluruh kebijakan dan kekuatan, sesungguhnya dimanakah anda akan berada? Pernahkah anda memikirkan hal tersebut dengan menggunakan sudut pandang ini sebelumnya? Karakter yang sangat berkebalikan dengan karakter Allah adalah karakter yang dimiliki oleh Setan. Dan sama seperti yang dinyatakah oleh Yesus Kristus: "Apabila ia [Setan] berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta. (Yohanes 8:44). Sedangkan mereka yang mengikuti Satan di dalam penolakannya untuk hidup di dalam kebenaran akan memiliki nasib yang sangat menyedihkan menunggu mereka: "Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya,....dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua." (Wahyu 21:8). Ingatlah bahwa di dalam pandangan Allah "bohong putih" itu tidak dibenarkan. Kebenaran yang tidak sejujurnya, tipu muslihat, dan penyesatan adalah hal-hal yang sangat dikutuki oleh firman Allah. Yesus mengatakan: "firmanMu adalah kebenaran" (Yohanes 17:17). Hendaklah kita hidup oleh firman Allah yang menyatakan bahwa kita akan mewarisi hidup yang kekal di dalam kerajaan yang berdasarkan pada nilai-nilai yang benar. Ini adalah pesan dari perintah yang kesembilan.
Prepared by:
Bambang Wiyono
081 2327 3886
Website:
http://muridyesuskristus.blogspot.com
Milis :
http://groups.yahoo.com/group/fullgospel_indonesia
Catatan : Sebagai umat Kristen, kita harus hidup seperti Yesus Kristus hidup ( I Yoh 2:6 ), yaitu mentaati dan melaksanakan KESEPULUH PERINTAH ALLAH, jangan sampai ada satu perintahNya yang dilanggar, agar kita hidup berkenan dihadapanNya

Perintah Kesepuluh

Perintah Kesepuluh
Oleh : Roderick C. Meredith, Living Church of God
Apakah anda mengetahui jika survei yang dilakukan akhir-akhir ini sesungguhnya telah menyatakan bahwa kesulitan-kesulitan finansial yang telah mewabah di banyak keluarga pada saat ini sebenarnya tidak dikarenakan oleh faktor pendapatan yang rendah? Agaknya, mereka disebabkan secara langsung oleh karena faktor pendapatan yang berlebih sehingga dapat menjangkau berbagai macam barang-barang mewah, dan memenuhi keinginan pribadi mereka, serta faktor kebiasaan untuk membeli barang secara angsuran! Dimana iklan-iklan sering menyarankan perihal "beli sekarang dan bayar nanti." Oleh karenanya haruslah kita berpikir bahwa apakah anda memang sangat membutuhkan untuk membeli barang tersebut pada saat ini? dan apakah anda memang sanggup untuk membayarnya "kemudian"?
Suatu Masyarakat Yang Didasarkan Atas Hawa Nafsu
"Keeping up with the Joneses/Berkutat dengan kecanduan" adalah suatu slogan orang Amerika yang terkenal. Iklan-iklan yang sangat menekan yang ditayangkan secara berulang-ulang dan berkesinambungan sesungguhnya mendorong hal ini untuk terjadi. Hal ini akan membuat orang berpikir bahwa amatlah salah jika mereka tidak berjuang dan berkompetisi untuk mendapatkan barang-barang yang dimiliki oleh tetangga mereka. Pendapat modern dibalik hal ini adalah bahwa "dapatkanlah segala sesuatu sementara mendapatkan itu adalah baik." Tekanan yang tak henti-hentinya, yang biasanya membuat orang berkeinginan untuk mendapatkan lebih banyak uang dan materi, telah menyebarkan lebih banyak penyembahan berhala. Hal ini akan menyilaukan pikiran dan hati jutaaan manusia untuk mengenal kehidupan dari Allah.
Beberapa tahun yang silam, sebuah materi bacaan Kristen, The Canadian Churchman, menulis suatu artikel yang menyahat hati tentang dampak penyembahan berhala dari kecintaan akan benda ini pada anak-anak muda Afrika yang mempelajari ilmu teologia di Amerika Serikat dan Kanada. Seorang anak muda berkata: "Sebelum saya belajar disini, saya adalah seorang Kristen yang baik. Saya bermimpi bahwa suatu hari nanti saya akan dapat menjadi tenaga medis misionaris.
Bagaimanapun juga, sekarang saya adalah seorang atheis. "Mengapa hal ini dapat terjadi?" tanya sang pewawancara dengan terkejut. "Semenjak saya datang ke sini," jawabnya, "saya menjadi tahu bahwa sesungguhnya orang kulit putih memiliki dua allah. Yang pertama adalah apa yang ia ajarkan kepada kita, dan yang kedua adalah kepada siapakah ia berdoa. Sebuah sekolah Presbyterian mengajarkan kepada saya bahwa doktrin-doktrin kesukuan dari nenek moyang saya yang berupa penyembahan patung dan kepercayaan kepada sihir adalah suatu hal yang salah dan sangat menggelikan. Namun pada kenyataannya di sini anda menyembah patung-patung yang lebih besar, yaitu mobil dan perangkat-perangkat elektronik. Secara jujur saya tidak dapat melihat perbedaannya."
Anda terkejut? sudah tidak semestinya kecuali jika kita memang terlalu dekat dengan dosa kita sehingga kita tidak dapat melihatnya. Hendaklah kita sadar bahwa walaupun kita memang hidup di tengah-tengah masyarakat yang menyebut diri mereka sebagai "masyarakat Kristen", pada kenyataannya kita hidup di dalam masyarakat yang berdasarkan hawa nafsu dan kerakusan terhadap kepemilikan akan barang secara lebih dan lebih! Tingkah laku ugal-ugalan untuk berkompetisi dengan orang lain untuk mendapatkan sesuatu pada kenyataannya adalah merupakan sumber penyebab dari tidak hanya masalah finansial, tetapi juga penyebab utama dari banyak sakit jasmani dan mental, kehancuran rumah tangga, dan hidup yang penuh frustasi. Dan yang paling penting, penyembahan berhala seperti ini akan membuat seorang manusia benar-benar tidak memiliki waktu, kekuatan, atau bahkan keinginan untuk mengenal Allah yang mana hukum-hukum dan jalan-jalanNya yang hidup sesungguhnya akan membawa kedamaian dan kebahagiaan batin yang nyata.
Perintah Yang Kesepuluh Dinyatakan
Kebanyakan dari manusia gagal untuk menyadari bahwa Kesepuluh Perintah itu sesungguhnya adalah hukum yang hidup, masih berlaku dan aktif sama halnya dengan hukum gravitasi. Kesepuluh perintah tersebut adalah hukum yang secara langsung berjalan dengan otomatis. Oleh karenanya jika anda melanggarnya, maka hukum itu akan menghancurkan anda! Itulah juga apa yang ada dengan perintah Allah yang kesepuluh. Meskipun pelanggan terhadap hukum tersebut dapat dilakukan secara rahasia, namun upah yang didapatkan akan sangat nyata dan pasti! "Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apa pun yang dipunyai sesamamu." (Keluaran 20:17).
Dari keseluruh perintah yang ada, perintah yang kesepuluh mengacu khusus hampir kepada hubungan antara manusia dengan manusia. Kekuatan dari perintah ini terletak di dalam kata-kata ini: sesamamu, sesamamu, miliknya, miliknya, miliknya, miliknya, sesamamu." Ini adalah perintah yang melindungi hak milik perseorangan bahkan sampai tujuh kali, dimana keinginan seseorang untuk memiliki barang milik sesamanya dibatasi sampai tujuh kali. Tidaklah salah untuk sungguh-sungguh mengingini seorang istri, pelayan, atau sapi atau keledai. Tetapi jika kekaguman atas sebuah benda itu ternyata tidak dapat diraih, maka rasa kekaguman tersebut akan menjadi satu dengan perasaan ingin memiliki sehingga terlanggarlah perintah kesepuluh. Meskipun perintah ini secara jelas berkaitan dengan perihal hubungan manusia dan hubungan di dalam hal fisik, persyaratan rohani yang dibutuhkan dari perintah ini pada kenyataannya lebih berat dibandingkan segala hal yang disebutkan. Perintah ini benar-benar mengendalikan bahkan segala pemikiran di dalam pikiran dan hati manusia. Kebanyakan manusia melihat dosa sebagai suatu hal yang terjadi di luar tubuh atau sering kali hanya bersifat jasmani. Mereka tidak menyadari bahwa karakter yang suci dan benar yang Allah inginkan ada di dalam diri kita pada kenyataannya membutuhkan pikiran-pikiran kita untuk benar-benar murni seperti pikiranNya.
Ingatlah bahwa tindakan tersebut mengikuti pikiran. Apa yang anda pikirkan, itulah juga siapakah anda. Jika anda secara sembunyi-sembunyi menolak standar Allah dan jalanNya, jika di dalam hati anda memiliki suatu keinginan yang sangat besar akan sesuatu hal yang tidak dapat atau tidak pernah akan anda miliki secara sah berdasarkan berkatNya, maka-cepat atau lambat, pemberontakan mental ini akan menghasilkan dosa. Tindakan-tindakan ini pada akhirnya akan menentang Allah, dan melanggar hukumNya. Hal ini dapat terjadi oleh karena pikiran-pikiran yang telah ada selama ini!
Perintah ini menembus seluruh "aspek kehidupan luar Kekristenan", serta menunjukkan tentang apakah seorang manusia telah sungguh-sungguh menyerahkan keinginannya kepada sang PenciptaNya atau tidak! Sungguh bahwa perintah ini adalah merupakan suatu prinsip yang meneliti hati manusia dan menakutkan. Tetapi hal ini adalah suatu perintah dimana anda harus belajar untuk mematuhi, yaitu jikalau anda memang ingin mendapatkan hidup yang kekal serta keagungan di dalam Kerajaan Allah. "Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus," (Filipi 2:5). Melalui Roh Allah di dalam diri kita, kita harus melakukan suatu perjuangan iman, yaitu dengan memadamkan seluruh hawa nafsu yang ada di dalam diri kita, dan pada akhirnya mendapatkan kesuksesan di dalam "Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus," (2 Korintus 10:5). Hal ini adalah suatu tujuan yang agung dari seorang Kristen yang benar, yaitu untuk benar-benar mendapatkan kepenuhannya di dalam kebangkitan.
Namun kita perlu tumbuh di dalam karakter Allah selama di dalam kehidupan ini. Kita harus belajar, seperti Henok, Nuh, Abraham dan pelayan Allah lainnya, untuk berjalan bersama dengan Allah. Kita harus berjalan di dalam jalanNya, melakukan apa yang Ia lakukan, serta berpikir sama seperti diriNya, melihat pikiran normal manusia biasanya dipenuhi dengan keegoisan, kesia-siaan, keinginan untuk bersaing, keserakahan, kebencian, dan nafsu. Itulah pikiran yang terputus dari jalan-jalan dan pikiran-pikiran Allah (Yesaya 55:8-9). Itulah mengapa Yesus menekankan tentang betapa pentingnya bagi pikiran kita untuk berubah, insyaf dan bersih ketika Ia berkata: "Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah." (Matius 5:8).
Dimanakah kita berdiri?
Khususnya semenjak Perang Dunia II, kehidupan di dalam masyarakat barat telah semakin cepat. Kita diharapkan untuk menghasilkan lebih banyak uang. Kita di buru untuk memiliki waktu yang nyaman, dan mendapatkan segala sesuatu yang bisa kita dapatkan dari kehidupan. Di dalam setiap sisi kehidupan, kita diajarkan untuk bersaing dengan sesama kita untuk mendapatkan kehormatan sosial dan kemajuan di dalam kecukupan materi. Kita akhirnya benar-benar kecanduan untuk memiliki lebih dan lebih barang/kekayaan jasmani yang mana keadaan ini tidak dikenal pada dua atu tiga generasi sebelumnya. Kita dipaksa untuk menghabiskan lebih daripada apa yang dapat kita hasilkan, dan bahkan untuk bekerja diluar kemampuan kita. Dengan liciknya iklan-iklan senang membujuk kita dengan perkataan, "Anda berhutang terhadap diri anda sendiri.", yaitu jika kita tidak membeli sebuah mobil, atau tidak makan pada restaurant yang mahal, atau tidak melakukan sebuah perjalanan yang mahal. Penekanan yang ada di sini adalah hanya untuk menerima dan pada diri sendiri. Pada skala internasional, bangsa-bangsa di dunia bertempur dan membantai atas dasar sikap hati yang seperti ini. "Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu? Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa." (Yakobus 4:1-2).
Sering kali, seorang kapitalis berkeinginan untuk mendapatkan lebih banyak uang daripada apa yang dapat ia dapatkan dengan mudah secara adil. Oleh karenanya, ia merampok karyawannya dengan memberi upah yang terlalu sedikit, dan menghabiskan terlalu sedikit dana untuk memperbaiki kondisi dan keamanan bekerja. Demikian pula, buruh-buruh pada zaman ini sering disesatkan oleh perserikatan buruh yang ceroboh sehingga mereka akhirnya berkeinginan untuk mendapatkan uang yang lebih dari pada yang bisa mereka dapatkan secara jujur. Melalui penipuan politik dan tekanan yang terorganisir, mereka berpikir bahwa mereka dapat mendapatkan sesuatu tanpa berusaha.
Mengapakah orang yang disebut "penulis" menulis suatu novel paperback yang murah berdasarkan hal-hal yang sia-sia seperti hal-hal yang cemar/mesum, menjijikkan, dan kebodohan anak-anak muda? Mengapakah para penerbit mau mencetak produk-produk yang tidak baik tersebut yang dapat menurunkan standar manusia akan kasih, kebaikan, dan idealisme ke level yang lebih rendah daripada binatang? Anda akan dapat dengan cepat melihat ratusan contoh-contoh besar dari keserakahan di dalam masyarakat kita jika mata anda benar-benar terbuka. Bagaimanapun juga anda harus berkeinginan untuk melihat keserakahan/keiri hatian anda sendiri! Hendaklah anda bertobat dari dosa anda tersebut dan memohon kepada Allah untuk memberikan anda kasih dan kekuatan sehingga anda dapat melawan dosa-dosa tersebut. Generasi kita membutuhkan firman dari Anak Allah yang berbunyi: "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu." (Lukas 12:15). Pahamkah anda akan hal tersebut? Kesuksesan dan kebahagiaan anda yang nyata di dalam kehidupan ini oleh Kristus dikatakan tidak dapat benar-benar diukur dengan seberapa baru dan kuatnya mobil yang anda kendarai, jenis rumah yang anda tinggali, pakaian yang anda pakai, atau bahkan makanan yang anda makan. Pada kenyataannya, kebahagiaan adalah keadaan pikiran manusia. Kebahagiaan akan datang jika anda dapat memiliki Roh dan pikiran dari Kristus di dalam pikiran anda sendiri. Yesus mengatakan: "Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya" (Lukas 9:5 8). Kasih, kebahagiaan dan kedamaian yang Yesus teladankan sesungguhnya berasal dari sikap hidup yang memberi dan melayani, dan bukan berasal dari perihal kekayaan jasmani yang bisa didapatkan oleh Yesus. Yesus, Anak Manusia, dapat mengalahkan kesombongan dan keserakahan/keirihatian manusia karena Ia menempatkan kepelayanan akan Allah lebih utama dari segala sesuatunya. Setelah menceritakan tentang bagaimanakah orang yang belum insaf itu mencari dan khawatir tentang keperluan dan kenyamanan jasmani, Ia memerintahkan: "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaranNya, maka segala sesuatuNya akan ditambahkan kepadamu" (Matius 6:3 3).
Perintah-Perintah itu Bergabung Bersama
Dalam hal ini perintah yang terakhir berjalan bersama-sama dengan perintah yang pertama. Karena segala sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Allah yang anda cari dan inginkan, pada kenyataannya anda menginginkannya dengan iri hati. Jika di dalam pikiran dan hati anda, anda memiliki nafsu, keiri hati/keserakahan untuk memiliki sesuatu hal yang lebih dari pada mematuhi Pencipta dan menerima berkat-berkatNya, maka hal tersebut akanlah menjadi berhala bagi anda. "Keserakahan.....adalah penyembahan berhala" (Kolose 3:5). Jadi apapun yang anda idolakan, anda menempatkannya pada posisi Allah yang benar Dan oleh karenanya maka anda melanggar perintah yang pertama: "Janganlah anda allah lain dihadapanKu. (Keluaran 20:3). Rasul Paulus mengatakan: "Apakah kamu tidak tahu, bahwa apabila kamu menyerahkan dirimu kepada seseorang sebagai hamba untuk mentaatinya, kamu adalah hamba orang itu, yang harus kamu taati, baik dalam dosa yang memimpin kamu kepada kematian, maupun dalam ketaatan yang memimpin kamu kepada kebenaran?" (Roma 16:6).
Ketika anda mulai memiliki keserakahan atas hal-hal jasmani, maka sesungguhnya anda "melayani" hal-hal jasmani tersebut. Anda menghabiskan waktu, tenaga dan bahkan uang anda untuk hal-hal yang semacam ini. Di dalam situasi yang seperti ini anda tidak memiliki baik waktu maupun tenaga untuk benar-benar mempelajari Alkitab, atau menghabiskan satu jam di dalam doa yang khusyuk dihadapan Allah yang telah memberikan kehidupan dan nafas hidup kepada anda. Anda akan mendapati diri anda sebagai pribadi yang kikir dan penuh rasa iri hati akan uang yang sesungguhnya merupakan hutang yang belum anda bayar kepada Pencipta anda untuk membiayai kebenaranNya. Di dalam perihal yang sederhana ini, anda sesungguhnya telah menjadikan hal-hal jasmani yang anda iri hatikan dan ingini tersebut sebagai "ilah" anda. Dan karena anda sungguh-sungguh melayani dan menyembah hal-hal tersebut, maka anda hanya memiliki sedikit waktu, kekuatan dan kekayaan untuk melayani Allah yang benar dengan segala hati, kekuatan dan pikiran anda.
Pahamkah anda sekarang? Keirihatian/keserakahan adalah sesuatu hal yang jelek karena hal itu memutuskan anda dari hubungan anda dengan Allah beserta segala berkat dan kasihNya, yang mana segala kekayaan jasmani sesungguhnya ditujukan untuk digunakan bagi kepelayanan dan keagunganNya. Dan di dalam praktek kesehariannya keirihatian itu melanggar prinsip dasar dari jalan kehidupan yang diatur oleh perintah Allah dan oleh Yesus Kristus sendiri. Yesus menyimpulkan prinsip ini ketika Ia berkata: "Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." (Kisah Para Rasul 20:35).
Di dalam belajar untuk melayani sesama anda dengan kasih, kesungguhan dan kepandaian, dan juga untuk melayani Allah yang benar, anda akan merasakan suatu kepenuhan dan kebahagiaan yang nyata di dalam kehidupan ini. Dan didalam Dunia Yang Akan Datang, anda akan diberikan kehidupan dan keagungan yang abadi di dalam pemerintahan yang agung berdasarkan Kesepuluh Perintah. Suatu jalan yang sesungguhnya dari kasih, memberi dan melayani sesama dan bahkan menyembah dan meninggikan Allah yang hidup yang telah memberikan perintah-perintah ini bagi kebaikan abadi kita.
Prepared by:
Bambang Wiyono
081 2327 3886
Website:
http://muridyesuskristus.blogspot.com
Milis :
http://groups.yahoo.com/group/fullgospel_indonesia
Catatan : Sebagai umat Kristen, kita harus hidup seperti Yesus Kristus hidup ( I Yoh 2:6 ), yaitu mentaati dan melaksanakan KESEPULUH PERINTAH ALLAH, jangan sampai ada satu perintahNya yang dilanggar, agar kita hidup berkenan dihadapanNya

Perintah-Perintah Yang Baru dari Yesus

Perintah-Perintah Yang Baru dari Yesus

Oleh : Roderick C. Meredith, Living Church of God

Banyak yang mengajarkan bahwa Yesus Kristus menggantikan Hukum BapaNya dengan beberapa perintah-perintah "baru"! Sesungguhnya, bagaimanakah kebenaranNya? apakah Kesepuluh Perintah tersebut masih tetap harus dipatuhi?

Sekarang ini adalah zaman dimana manusia senang melakukan pemberontakan melawan segala hukum dan kekuasaan. Bangsa-bangsa dan pemerintahan-pemerintahan digulingkan, rumah-rumah dan sekolah-sekolah dihancurkan oleh berbagai macam kekacauan yang disebabkan oleh berbagai macam pemberontakan.

Suatu pandangan akan tanggapan manusia pada saat ini terhadap frasa kata di dalam doa Yesus yang berbunyi "Datanglah KerajaanMu, Jadilah KehendakMu", diberikan oleh seorang minister Ohio beberapa tahun yang lalu. Minister tersebut menulis "Kami Tidak Memaksudkan Hal Itu". Kita tidak menyenangi pemerintahan, atau tidak mudah menyerah bahkan jika Ia adalah Raja dari sorga sekalipun amatlah sangat nyata bahwa kebanyakan manusia pada kenyataannya telah sungguh-sungguh berdoa dengan cara yang seperti ini, "Janganlah datang KerajaanMu, dan terjadilah kehendakku."

Apakah Kesepuluh Perintah Dihapuskan?

Didalam bab sebelumnya pada buklet ini, kita telah melihat dan mempelajari penerapan yang positif dari Kesepuluh Perintah di dalam setiap aspek kehidupan pribadi kita sebagai hukum-hukum yang hidup dan aktif. Tetapi pada saat ini banyak pelayan dan pengajar Alkitab yang salah mewartakan dengan mengatakan bahwa Kesepuluh Perintah telah "dihapuskan" karena perintah-perintah tersebut telah digantikan oleh perintah-perintah Yesus yang "baru".

Apakah yang dimaksud dengan perintah-perintah yang "baru"? apakah perintah-perintah tersebut menggantikan atau melawan Kesepuluh Perintah? dan apakah yang dinyatakan oleh Alkitab tentang perihal yang sangat penting ini? Pertama kalinya, marilah kita memperhatikan salah satu tujuan penting bagi kedatangan Yesus Kristus ke bumi ini di dalam manusia daging. Yesaya menubuatkan tentang Yesus: "Ia akan meninggikan hukum dan membuatnya terhormat/agung" (Yesaya 42:2 1). Disini kita menemukan bahwa Kristus datang tidak untuk meniadakan hukum, tetapi untuk "mengagungkan/memperbesar"nya. (KJV).

Meninggikan atau memperbesar sesungguhnya memiliki arti yang sangat berkebalikan dengan mengubah atau meniadakan sesuatu. Meninggikan atau memperbesar memiliki arti untuk menyatakan sesuatu hal secara rinci, atau memperluas artinya. Tentu saja kehidupan Yesus dan ajaranNya menyatakan kepada kita tentang bagaimanakah Ia memang selalu melakukan hukum Bapa.

Yesus mengatakan: "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya." (Matius 5:17).

Yesus melakukan apa yang diucapkanNya tersebut. Baik di dalam kehidupan dan ajaranNya, Yesus menggenapi hukum. Ia mengagungkan dan memperbesarnya dengan teladanNya yang sempurna. Ia melakukannya dengan segala kepenuhannya, jauh diatas hanya sekedar huruf untuk melakukan perintah tersebut. Bahkan Ia juga mematuhinya mulai dari hal keinginan hati beserta tujuan rohani yang ada di dalam hukum Bapa yang sempurna tersebut.

Mereka yang mengetahuiNya sebagai seorang guru tidak pernah dapat mengatakan bahwa Ia telah menempatkan tradisi manusia untuk menggantikan Perintah Allah. Ia benar-benar mematuhi Kesepuluh Perintah di dalam kata-kata dan di dalam perbuatan. Ia mengajarkan dan menghidupkan perintah-perintah tersebut sebagai jalan hidup yang sempurna.

Ia berkata: "Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga." (Matius 5:19)

Dengan jelas, kita harus memiliki keinginan untuk menjadi "kuat" di dalam Kerajaan Allah. Kita sudah seharusnya memiliki keinginan untuk mengalahkan segala kekurangan kita semaksimal mungkin, dan memiliki kesempatan untuk melayani dengan baik dan sekuat mungkin! Oleh karenanya, kita harus dengan bersungguh-sungguh dan nyata berjuang untuk melakukan dan mengajarkan perintah-perintah Allah bahkan yang "paling kecil" sekalipun. Sekarang apakah anda berpikir bahwa perintah tentang hari Sabat adalah merupakan perintah yang "paling kecil"? Jika ya maka anda harus melakukan dan mengajarkan perintah tentang hari Sabat Allah sama seperti yang Ia perintahkan, yaitu dengan mengikuti teladan Kristus yang sempurna untuk memperingati hari ketujuh yang suci tersebut, dan bukannya "hari matahari"!

Jalan Menuju Hidup Yang Abadi

Ketika seorang muda datang kepadaNya serta bertanya tentang jalan yang dapat memimpin orang kepada hidup yang abadi, Yesus berkata: "Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Alla" (Matius 19:16-18).

Orang muda tersebut bertanya, "perintah yang manakah?"

Yesus menjawab, "'janganlah membunuh,' 'janganlah berbuat zinah....'" dan kemudian meneruskannya dengan menyebutkan beberapa perintah dari Kesepuluh Perintah. Yesus Kristus sesungguhnya mengetahui jalan yang akan memimpin seorang manusia kepada keselamatan! Ia berkata bahwa jalan yang membawa manusia kepada keselamatan itu adalah kepatuhan akan hukum Allah Bapa dan kepasrahan akan kehendakNya.

Yesus mengatakan: "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga." (Matius 7:2 1).

Jadi jauh dari meniadakan Kesepuluh Perintah, Yesus pada kenyataannya mematuhi perintah-perintah Allah (Yohanes 15:10). Kristus adalah "cahaya" yang Allah kirim kedalam dunia untuk menunjukkan kepada manusia tentang bagaimanakah mereka harus hidup. Setelah kematian dan kebangkitanNya, Kristus mengirim para rasul dengan perintah ini: "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah" (Matius 28:19-20).

Para rasul ada bersama-sama dengan Kristus ketika Ia berkata kepada orang muda tersebut: "Lakukanlah perintah-perintah Allah". Mereka telah mendengar Yesus mengagungkan dan memperbesar perintah-perintah Allah di dalam Khotbah di Bukit (Matius 5-7).

Para rasul telah menyaksikan kepatuhan Kristus akan Kesepuluh Perintah dan mengetahui bahwa kepatuhanNya adalah teladan yang sempurna. Oleh karenanya ketika Yesus Kristus mengirimkan mereka ke setiap bangsa dengan misi untuk mengajarkan mereka tentang segala hal yang telah Ia perintahkan kepada mereka, tidak terdapat suatu keraguan pun di dalam pikiran mereka bahwa segala hal tersebut adalah termasuk Kesepuluh Perintah Allah.

Kepatuhan terhadap Kesepuluh Perintah adalah suatu dasar ajaran dari Kristus dan para RasulNya. Namun sekarang apakah yang dimaksud dengan perintah-perintah "baru" dari Yesus? Apakah perintah-perintah baru tersebut pada akhirnya meniadakan kewajiban kita untuk secara sungguh-sungguh melakukan Kesepuluh Perintah yang dinyatakan di dalam Wasiat Lama?

Sebuah Perintah Yang "Baru"

Walaupun banyak orang berpikir bahwa terdapat banyak ayat di dalam Alkitab yang menyatakan tentang suatu perintah "baru", pada kenyataannya hanya terdapat satu tempat saja di dalam seluruh Alkitab di mana Yesus mengatakan Ia memberikan suatu perintah yang "baru". Ayat referensi yang lain yang ditulis oleh rasul Yohanes sesungguhnya adalah merupakan prinsip-prinsip yang sama seperti yang akan kita lihat.

"Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi." (Yohanes 13:34-35).

Yesus memberikan perintah yang "baru" ini pada saat malam terakhir dari masa hidupNya sebagai manusia daging di bumi ini. Melalui ajaran dan teladanNya, Ia telah menunjukkan kepada murid-muridNya bahwa tindakan melakukan perintah-perintahNya tersebut tidak lain adalah tindakan kasih.

Kita menunjukkan kasih yang nyata terhadap Allah ketika kita bersungguh-sungguh menyembah dan mematuhiNya, yaitu dengan tidak mengijinkan "ilah-ilah" lain, berhala-berhala, gambar-gambar atau hal apapun di hadapanNya dan selalu menghormati namaNya serta merayakan hari Sabat ketujuhNya yang Ia sucikan, yang juga dirayakan oleh Yesus dan para rasul! Dan kita menunjukkan kasih bagi mereka yang ada disekitar kita ketika kita secara bersungguh-sungguh mematuhi keenam perintah terakhir.

Kristus telah menyimpulkan hukum Allah di dalam dua prinsip besar: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.... Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." (Matius 22:37, 39). Sesungguhnya pada bagian terakhir dari penyimpulan hukum Allah ini Yesus mengutip secara langsung dari Wasiat Lama (Imamat 19:18)!

Jadi apakah hal yang "baru" dari perintah Yesus tentang mengasihi kepada sesama?

Jawabannya adalah sangat jelas. Prinsip dari mengasihi sesama sesungguhnya bukanlah hal yang baru, namun Yesus mengagungkan prinsip tersebut di dalam kehidupanNya yang sempurna memberikan suatu cahaya yang baru di dalam keinginan dan kedalaman rohani dari perintah ini.

Ingatlah hal yang ditekankan oleh Yesus, "Sejalan dengan Aku mengasihi dirimu, demikian pulalah engkau harus saling mengasihi."

Teladan pribadi Yesus akan kasih dan pelayanan adalah suatu pengagungan yang paling besar dan penuh arti dari kasih atas sesama seperti yang diperintahkan oleh Allah. Di dalam kehidupanNya, Ia menunjukkan tentang bagaimanakah kasih tersebut benar-benar dilaksanakan di dalam kehidupan sehari-hari.

Cara Bagaimanakah Mengasihi Sesama Anda

Tiga kali suara dari Yang Maha Tinggi mengguntur dan bergema di langit menyatakan tentang bagaimanakah Allah merasa puas dengan kehidupan yang di miliki oleh Yesus. Bahkan seorang pejabat Roma, Pontius Pilatus, berkata: "Lihatlah, aku membawa Dia ke luar kepada kamu, supaya kamu tahu, bahwa aku tidak mendapati kesalahan apa pun pada-Nya." (Yohanes 19:4).

Hal ini terjadi oleh karena Yesus menghidupkan jalan hidup yang memberi. Yesus menjalankan prinsip hidup memberi kepada sesama. Semua itu tercermin ketika ia mengajar khayalak ramai, mujizat penyembuhanNya akan orang sakit, tindakanNya melakukan mukjizat untuk memberi makan khayalak ramai atau tindakan yang penuh dengan kerendahan hati seperti membasuh kaki para rasul. Yesus selalu memiliki tindakan memberi dari diriNya.

Yesus Kristus yang penuh dengan tindakan kasih dan memberi ini juga berkata kepada para pemimpin agama di zamanNya, "Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular beludak! Bagaimanakah mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka?" (Matius 23:33).

Apakah kata-kata yang aneh ini berasal dari seorang manusia yang penuh dengan kasih? Bukan. Melainkan kata-kata ini sesungguhnya adalah perwujudan dari bagaimanakah kasih yang sempurna itu terkadang dikatakan dan dilakukan bagi kebaikan orang lain yang mana pada saat kata-kata tersebut dikatakan, orang-orang tersebut tidak dapat menghargainya.

Ketahuilah bahwa Yesus mengasihi orang-orang Farisi tersebut! Di dalam kasihlah Yesus mengatakan kata-kata ini untuk membangunkan mereka dari kehidupan beragama yang munafik dan keliru yang dapat mencelakakan jiwa mereka. Ingatlah bahwa bagi orang-orang Farisi yang sama itu pulalah Yesus telah meninggal. Kepada orang-orang Farisi ini dan juga yang lain yang seperti mereka itulah Yesus berdoa. Adalah kepada Farisi ini dan juga yang lain yang seperti mereka Yesus berdoa: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Dan mereka membuang undi untuk membagi pakaian-Nya." (Lukas 23:34).

Adalah di dalam kasih yang sempurna dan yang penuh dengan pengertian itulah Yesus sesekali menarik diri untuk beristirahat, merenung atau berdoa. Karena Ia tahu bahwa hanya dengan mempertahankan kedekatan dengan Allah Bapa dan menjadi alat di dalam kehendak dan kuasaNya sejalah maka ajaran dan keberadaan Yesus sebagai manusia akan dapat memperkaya kehidupan orang lain.

Yesus tidak bertindak seolah-olah Ia mengasihi sesama. Ia benar-benar mencintai mereka dengan kasih yang sempurna. Melalui Roh Kudus Allah di dalam diriNya itulah Ia dari dalam hatiNya berkeinginan untuk mengasihi serta melayani sesamaNya. Dan hal itu dilakukanNya bagi kebaikan mereka yang sesungguhnya.

Ia dengan bersungguh-sungguh menghidupkan kata-kata yang pada saat setelahnya ditunjukkan oleh Paulus. Ia mengatakan: "Adalah lebih baik memberi daripada menerima" (Kisah Para Rasul 20:3 5). Dengan cara inilah perintahNya yang memerintahkan manusia untuk saling mengasihi satu dengan yang lain "bahkan sama seperti aku mengasihi dirimu" benar-benar menjadi suatu perintah yang "baru" dan luas di dalam mengatur hubungan antara manusia.

Apakah Yesus bersungguh-sungguh Mematuhi Kesepuluh Perintah?

Banyak orang beragama berpikir bahwa Yesus memiliki suatu jenis "kasih" yang sentimentil di dalam hatiNya, yang mana bagaimanapun juga Ia tidak sungguh-sungguh mematuhi perintah-perintah Allah secara nyata.Tetapi hendaklah kita mengetahui bahwa kebenarannya adalah bahwa Yesus Kristus melakukan dan mematuhi setiap Sepuluh Perintah baik secara huruf dan Roh, dan hal ini pulalah yang harus dilakukan oleh para pengikutNya. Sama dengan apa yang telah kita lihat, Yesus dengan jelas mengatakan bahwa Ia telah mematuhi perintah-perintah Bapa (Yohanes 15:10).

Untuk membuat perintah-perintah ini menjadi sangat jelas, Yesus Kristus tidak pernah memiliki ilah lain dihadapan Allah yang benar. Ia tidak pernah melakukan penyembahan berhala atau menyia-nyiakan nama Allah. Yesus merayakan hari Sabat yang disucikan oleh Allah dan memiliki kebiasaan pergi ke sinagoga untuk beribadah pada hari itu (Lukas 4:16).

Yesus mengagungkan orang tuaNya, dan Ia tidak pernah membunuh, bercabul, mencuri, berbohong atau mengingini. Ia memberikan suatu teladan di dalam langkah-langkah hidupNya yang kita harus ikuti (1 Petrus 2:2 1). Pada saat ini, seorang umat Kristen yang benar adalah seorang manusia yang menyerahkan dirinya kepada Allah sehingga Kristus dapat benar-benar menghidupkan kehidupanNya di dalam diri orang tersebut melalui berdiamnya kekuatan Roh Kudus di dalam dirinya. Oleh karena rasul Paulus mengatakan: "namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku." (Galatia 2:20).

Seorang Kristen yang benar tidak seharusnya hanya memiliki iman di dalam Kristus, tetapi harus juga hidup oleh iman Krsitus yang ditempatkan di dalam dirinya oleh Roh Kudus. Kristus, melalui Roh Kudus, harus benar-benar hidup didalam umat Kristen yang benar. Ingatlah bahwa Kristus akan menghidupkan kehidupan yang sama di dalam diri anda hari ini sama dengan apa yang Ia lakukan lebih dari 1900 tahun yang lalu, yang mana hal ini tidak lain adalah memberikan suatu teladan kepada kita. "Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya." (Ibrani 13:8).

Yesus, di dalam keadaan diriNya sebagai makhluk daging, "telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa." (Ibrani 4:15). Dicobai ya tetapi di dalam kehidupanNya sebagai makhluk daging Ia mematuhi Kesepuluh Perintah. Dan dengan keberadaan Roh Kudus di dalam diri para murid, Kristus akan melakukan perintah-perintah tersebut di dalam diri mereka, yaitu melalui kepatuhan mereka dan kerelaan mereka untuk membiarkan Kristus menghidupkan kehidupanNya yang patuh di dalam diri mereka.

Adalah kasih Kristus, kekuatanNya di dalam diri kita, yang dapat mematuhi hukum rohani Allah. Hal ini adalah karena Yesus Kristus dari dulu dan juga sekarang memang mematuhi Allah Bapa.

Apakah Yohanes Memberikan Suatu Perintah "Baru"?

Di dalam surat yang ditulis oleh Yohanes, rasul yang dikasihi oleh Yesus, kita juga akan menemukan referensi akan suatu perintah "baru".

"Saudara-saudara yang kekasih, bukan perintah baru yang kutuliskan kepada kamu, melainkan perintah lama yang telah ada padamu dari mulanya. Perintah lama itu ialah firman yang telah kamu dengar. Namun perintah baru juga yang kutuliskan kepada kamu, telah ternyata benar di dalam Dia dan di dalam kamu; sebab kegelapan sedang lenyap dan terang yang benar telah bercahaya. Barangsiapa berkata, bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang." (1 Yohanes 2:7-9).

Disini sang rasul mengarahkan jemaat kepada "firman" Allah yang memang sudah ada ditengah-tengah mereka mulai dari mulanya. Tetapi kemudian ia menyebutkan suatu hal yang "baru". Ia melanjutkan dengan menjelaskan bahwa hal yang baru ini sesungguhnya adalah kasih rohani yang dalam yang harus dimiliki oleh jemaat Kristus terhadap sesamanya. Tidak ada ruang sedikit pun bagi kebencian, iri hati atau kedengkian bagi kasih yang semacam ini.

Tetapi sekarang, yang menjadi pertanyaan adalah apakah kasih keKristenan ini "meniadakan" atau mengubah "Kesepuluh Perintah" Allah?

Jawabannya tentu saja tidak!

Malah sebaliknya, kasih keKristenan ini justru mempertegas dan memperbesar kasih umat Kristen pada masing-masing individu bagi sesamanya. Kasih ini mencakup kepatuhan yang lebih besar daripada huruf-huruf di dalam Kesepuluh Perintah namun kasih ini tidak menggantikan Kesepuluh Perintah tersebut!

Seperti yang Yohanes tuliskan di dalam suratnya yang kedua: "Dan sekarang aku minta kepadamu, Ibu -- bukan seolah-olah aku menuliskan perintah baru bagimu, tetapi menurut perintah yang sudah ada pada kita dari mulanya -- supaya kita saling mengasihi. Dan inilah kasih itu, yaitu bahwa kita harus hidup menurut perintah-Nya. Dan inilah perintah itu, yaitu bahwa kamu harus hidup di dalam kasih, sebagaimana telah kamu dengar dari mulanya." (2 Yohanes 5-6).

Disini Yohanes mendefinisikan kasih Kristen sebagai kasih yang diwujudkan di dalam tindakan mematuhi perintah-perintah tersebut!

Kita diajarkan untuk tidak hanya mengasihi orang-orang Allah dan Kristus, namun juga untuk mencintai jalan hidup mereka, yaitu karakter mereka yang diekpresikan di dalam Kesepuluh Perintah. Kristus tidak hanya mengajarkan kepatuhan terhadap perintah-perintah tersebut namun Ia juga hidup dan menghidupkan perintah-perintah tersebut!

Dan seperti yang ditambahkan oleh Yohanes: "Setiap orang yang tidak tinggal di dalam ajaran Kristus, tetapi yang melangkah keluar dari situ, tidak memiliki Allah. Barangsiapa tinggal di dalam ajaran itu, ia memiliki Bapa maupun Anak." (ayat 9).

Hal Yang Sesungguhnya Diajarkan Oleh Perintah-Perintah Yang "Baru"

Ketika kita melihat sisi positif dari perintah-perintah yang "baru", kita menemukan bahwa perintah-perintah tersebut sesungguhnya memperkuat perintah-perintah yang lama! Mereka menggaris besarkan suatu jalan hidup dari pada kasih, memberi, melayani, yang mana hal ini hanya bisa didapatkan melalui Kristus sendiri yang hidup di dalam diri kita.

Dengan menghilangkan segala keegoisan, kita sesungguhnya dapat belajar untuk mengasihi orang lain sama seperti Yesus mengasihi kita. Itulah doktrin Wasiat Baru! Hal ini jauh lebih mengikat dibandingkan huruf– huruf dari perintah-perintah yang dinyatakan di dalam Wasiat Lama.

Bagaimanapun juga, perintah baru tersebut tidak menggantikan perintah-perintah di dalam Wasiat Lama, melainkan mereka justru memberikan nilai yang lebih besar kepada arti rohani dari perintah-perintah tersebut. Dan perintah-perintah "baru" ini sendiri mengarah kepada kesempurnaan yang besar di dalam kehidupan Yesus.

Ketahuilah bahwa Yesus pada kenyataannya mematuhi Kesepuluh Perintah secara sungguh-sungguh dan bahkan di dalam arti rohaninya sekalipun. Ia adalah "cahaya terang" kita, yaitu teladan kita.

Menggambarkan prinsip tentang bagaimanakah kita harus mengasihi sesama rasul Paulus menyatakan: "Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat." (Roma 13:10). Hendaklah kita mengingat bahwa kasih rohani Allah tersebut mengalir melalui suatu dasar seperti air sungai mengalir melalui dasar sungai. Dasar tersebut sebenarnya adalah Kesepuluh Perintah.

Di dalam mematuhi Kesepuluh Perintah secara sempurna, yaitu di dalam setiap fasa dan sisinya, kehidupan Yesus sesungguhnya adalah suatu kehidupan yang memancarkan kasih itu sendiri dan kasih itu adalah pemenuhan dari hukum Taurat Allah. Perintah yang "baru" yang Ia berikan mengarahkan kita kepada teladanNya yang sempurna, yaitu teladan dari kepatuhan kepada Bapa, kebaikan dan kepelayananNya kepada semua orang.

Jutaan umat Kristen telah diajarkan bahwa hal yang perlu mereka lakukan hanyalah "mengasihi Yesus" atau memiliki "kasih Allah". Tetapi sekarang apakah yang sesungguhnya dimaksud dengan "kasih" tersebut? Bagaimanakah Allah sendiri menceritakan keapda kita tentang bagaimanakah kasihNya dapat ditunjukkkan? Pada akhir zaman Kerasulan, beberapa dekade setelah kebangkitan Yesus, Allah memberikan wahyu kepada rasul Yohanes (sahabat Yesus yang paling dekat di antara para rasul) untuk menceritakan kepada kita: "Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat," (1 Yohanes 5:3).

Ingatlah bahwa Yesus menghidupkan hukum Allah di dalam segala hal yang Ia pikirkan, Ia katakan dan Ia lakukan. Di dalam kehidupan kita sebagai makhluk daging, tidak ada satu pun dari kita yang dapat menjalankan hukum Allah dengan sempurna. Tetapi hukum Allah harus menjadi "pola" dari kehidupan kita. Kita diperintahkan untuk "Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya." (2 Petrus 3:18), pola kehidupan kita mengikuti hidup Kristus akan lebih sempurna sejalan dengan bergantinya tahun.

Biarlah Allah membantu anda untuk mengikuti teladan AnakNya di dalam mematuhi hukumNya. Dan biarlah anda, melalui penyerahan dan kepatuhan diri, mengembangkan karakter Allah. Oleh karenanya, dengan belas kasihNya melalui pengorbanan Kristus, dan melalui penyerahan diri yang total biarlah anda membiarkan Kristus menghidupkan kehidupanNya yang patuh di dalam diri anda melalui Roh Kudus, maka anda akan diberikan hidup yang abadi di dalam Kerajaan Allah!

Prepared by:

Bambang Wiyono

081 2327 3886

Website:

http://muridyesuskristus.blogspot.com

Milis :

http://groups.yahoo.com/group/fullgospel_indonesia

Catatan : Sebagai umat Kristen, kita harus hidup seperti Yesus Kristus hidup ( I Yoh 2:6 ), yaitu mentaati dan melaksanakan KESEPULUH PERINTAH ALLAH, jangan sampai ada satu perintahNya yang dilanggar, agar kita hidup berkenan dihadapanNya.